Ahmadiyah Tak Perlu Dibubarkan

bubarkanSepuluh tahun sudah orde reformasi telah berjalan, menggusur orde lama dan orde baru yang sebelumnya menghiasi bangsa Indonesia tercinta ini. Reformasi seringkali diartikan perubahan terhadap sistem yang sebelumnya telah ada. Tapi tampaknya ada pergeseran makna dalam mengartikan reformasi itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, di orde-orde sebelumnya banyak hal yang dilarang dan bahkan jika ada yang nekat langsung dicekal dan dimasukkan ke dalam bui. Namun setelah reformasi muncul di negeri ini semua menjadi bebas, bebas dalam berekspresi, bebas dalam berbicara, bebas dalam beragama, bebas dalam mengatur daerah atau yang sering disebut dengan otonomi daerah, dan ada juga kebebasan pers.


Ternyata pintu kebebasan yang selama orde reformasi ini dibuka lebar-lebar banyak disalah maknai beberapa orang dalam mengekspresikan sesuatu yang bahkan sampai kebablasan atau tak bertanggung jawab, sehingga diantaranya ditandai dengan munculnya aliran-aliran sesat. Selain itu, permasalahan keadaan ekonomi yang makin sulit sekarang ini juga menjadi faktor dari munculnya paham aliran-aliran baru. Tentunya di zaman ekonomi yang makin serba sulit ini banyak orang yang menanti-nanti akan datangnya sang penolong dan sang penyelamat yang diyakini sebagai Ratu Adil atau Imam Mahdi, sehingga dengan mudahnya para pendakwah aliran-aliran baru ini menyebarluaskan ajarannya dengan memberikan kemudahan-kemudahan bagi pengikutnya yang membuat masyarakat berpaling dari aqidah Islam.

Beberapa tahun yang lalu, masyarakat Indonesia dikagetkan dengan kehadiran Jamaah Salamullah dengan Lia Aminuddin alias Lia Eden sebagai pemimpinnya yang mengaku sebagai jelmaan dari malaikat Jibril. Belum hilang di benak orang tentang kehadiran aliran ini, masyarakat Indonesia kembali diresahkan dengan munculnya paham aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, paham aliran ini dipimpin oleh Ahmad Moshaddeq alias Abd. Salam yang mengaku sebagai “Nabi” dan “Rasul Allah”. Sementara itu, tak lama kemudian beredar Ajaran Al-Qur’an Suci dan Pengajian Hidup di Balik Hidup.

Dalam penyampaian paham aliran mereka, masing-masing memiliki keyakinan dan ajaran yang bermacam-macam. Misalnya dalam Aliran Salamullah, ajaran ini meyakini bahwasanya Lia Aminuddin adalah Imam Mahdi yang terlebih dahulu telah dibaiat oleh Malaikat Jibril. Selain itu Lia Aminuddin juga diyakini sebagai Maryam dan anaknya yang bernama Ahmad Mukti selanjutnya dibaiat sebagai Nabi Isa. Dalam aliran ini, Lia Aminuddin datang bukan hanya untuk menyelamatkan bangsa Indonesia, melainkan juga untuk menyelamatkan dunia.

Sementara itu pada paham aliran lainnya, Al-Qiyadah Al-Islamiyah meyakini bahwa Ahmad Moshaddeq adalah Al-Masih Al-Maw’ud diyakini melanjutkan tongkat estafet kerasulan yang pernah dibawa oleh para Nabi dan Rasul sebelumnya. Sebagai tanda perwujudan keimanan seseorang kepada Ahmad Moshaddeq, maka setiap orang yang percaya kepada dirinya diharuskan mengucapkan syahadat versi paham aliran ini yang tentu saja mengimani bahwa Ahmad Moshaddeq sebagai Al-Masih Al- Maw’ud dan Rasul Allah. Anehnya lagi dari aliran ini meskipun menyatakan berpegang pada Al-Qur’an, namun kepada pengikutnya tidak diwajibkan dalam melakukan shalat lima waktu, puasa dan haji. Shalat yang wajib dilakukan adalah shalat tahajjud.

Adapun dalam paham aliran lain, Al-Qur’an Suci meyakini imam tertinggi dalam Aliran ini sebagai Rasul Allah. Mereka tidak mengakui Hadits dan Sunnah Nabi. Menurut mereka, shalat tidak wajib, puasa dan haji belum saatnya. Qiraah Al-Qur’an tidak boleh dilagukan. Shalat dilakukan tanpa harus berwudhu terlebih dahulu, karena menurut paham aliran ini manusia sudah suci sejak lahirnya. Selain itu seseorang boleh berhubungan intim dengan saudara iparnya.

Seperti halnya ketiga aliran yang telah dikemukakan diatas, Pengajian Hidup di Balik Hidup yang dipimpin oleh Mujono Abdullah, juga meyakini bahwa Mujono Abdullah telah mendapat wahyu dan mengaku pernah melakukan mi’raj ke Sidratul Muntaha. Aliran ini juga tidak meyakini syafaat dari Nabi Muhammad saw.

Melihat hal tersebut, tentunya tidak akan menjadi persoalan apabila aliran-aliran baru yang selama ini menjadi trend di Indonesia tidak mengkaitkan keberadaannya dengan agama Islam maupun agama-agama yang sudah ada selama ini. Namun dalam contoh kasus “Al Qiyadah”, aliran baru ini menjadi persoalan karena mengaitkan keberadaannya dengan agama yang sudah ada. Dengan bertobatnya pimpinan Al Qiyadah Al Islamiyah, Ahmad Mushadeq, seharusnya ketika pemimpinnya saja sudah bertobat, para pengikutnya ya harus ikut bertobat juga, dan para pengikut-pengikut aliran sesat yang sudah bertobat ini justru jangan kita jauhi, malah harus kita rangkul. Agar para pengikut aliran sesat ini tidak kembali terjerumus.

Pemunculan berita Ahmadiyah yang akhir-akhir ini hangat kembali, dimana Ahmadiyah yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi setelah nabi Muhammad ini sebenarnya sejak dulu sudah ada, bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Jadi agak riskan kalau sampai mau digusur ataupun dirontokkan, seolah mereka bukan anak cucu adam. Memang, terkait dengan pernyataan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) Kejaksaan Agung yang menyatakan bahwa aliran Ahmadiyah menyimpang dari ajaran Islam dan harus dihentikan, hal ini pun juga tertera dalam SKB yang dikeluarkan pemerintah menyatakan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) diminta untuk menghentikan penyebaran paham alirannya. Tapi perlu diketahui bahwa tidak mudah melaksanakan sebuah tindakan pembubaran di lapangan. Karena pembubaran sebuah keyakinan tidaklah seperti semudah membalikkan telapak tangan.

Boleh saja adanya pembubaran Ahmadiyah ini dilakukan secara legal formal. Namun secara kultural keyakinan itu boleh jadi akan tetap hidup. Maka yang terbaik dilakukan oleh umat muslim adalah mengembangkan dialog persuasif agar pengikut ajaran yang dianggap menyimpang itu mau kembali ke keyakinan aqidah Islamiyah dan khususnya lagi tentang kembali meyakini keesaan Allah dan Kerasulan Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul akhir zaman. Kalau boleh dibilang sebenarnya Ahmadiyah ini sudah berada di pekarangan rumah Islam, karena mereka bersyahadat, mereka shalat, puasa dan bahkan diantara mereka sebagian ada yang berhaji. Dan daripada mengusir mereka keluar pagar, lebih baik diajak masuk ke Rumah Islam melalui Babus Salam atau pintu damai.

Sudah menjadi kewajiban baik ormas maupun elemen masyarakat dalam menyikapi atau mendekati paham aliaran-aliran yang telah dikemukakan diatas maupun paham ajaran Ahmadiyah ini harus dilakukan dengan cara yang baik. Bukan dengan kekerasan, aksi melempari, bakar-membakar apalagi saling pukul dan lain-lain. Islam itu sendiri kan mengajarkan kita cara berdakwah dengan diskusi yang baik, dengan mau’idhatul hasanah, mujadalah atau perdebatan yang bagus secara dingin. Inilah yang lebih tepat sesuai dengan Al Qur’an, mana yang benar nanti akan nampak. Lagipula kalau bagi orang yang bertauhid wajib hukumnya meyakini yang benar adalah agama Allah, lantas jika ada orang yang tidak mau bertauhid ya silahkan saja untuk tidak meyakini, karena Islam menyuruh kita bertasamuh.

Di sinilah penting untuk kita pahami secara jujur diktum Alquran dalam Al-Baqarah ayat 256 yang didalamnya dikatakan “Tidak ada paksaan dalam agama.” Jika Tuhan tidak mau memaksa hamba-Nya untuk memeluk atau tidak memeluk agama, mengapa kita sebagai manusia mau main paksa atas nama Tuhan ? Sikap seperti inilah yang nantinya akan membuat kacau di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, Alquran jangan dibawa-bawa untuk menindas orang lain. Kekerasan atas nama agama adalah pengkhianatan yang nyata terhadap hakikat agama itu sendiri.

Dan jangan dilupakan, bahwasanya dalam berdakwah kita harus senantiasa berdasar pada Al-Quran, dalam ayat Al-Asr dijelaskan untuk saling mengingatkan dalam kebenaran harus juga disertai dengan kesabaran. Kesabaran ini dapat diartikan berdakwah dengan berkali-kali serta ikhlas menjalankannya. Jadi, kita sebagai umat Islam bukanlah “harga diri” yang kita tunjukkan, namun akan lebih bermakana bila “nilai diri” terlebih dahulu yang kita tunjukkan kepada masyarakat. Nantinnya jika nilai diri dari sebuah Islam telah terbentuk dengan baik maka secara tidak langsung harga diri Islam akan terangkat dengan sendirinya. Percayalah, hukum alam pasti akan berlaku, mana yang benar “benar” dan mana yang ”pura-pura benar” sehingga seolah-olah menjadi benar serta dijadikan akal-akalan untuk menutupi kebusukan sesuatu pasti akan terlihat.

Akhiru kalam, dengan berkembangnya hal semacam ini diharapkan ormas dan lembaga Islam hendaknya meningkatkan dakwahnya untuk meyakinkan masyarakat yang mengaku Islam tetapi mempraktekkan aqidah menyimpang untuk kembali ke jalan yang benar. Harus diakui bahwa maraknya ajaran-ajaran menyimpang ini adalah karena dakwah Islamiyah yang belum merata dan mendalam.

Wallahu a’lam.

13 Responses

  1. assalamu’alaikum.,

    yup.,bkn shrusnya m’bubarkan dgn cra ke2rasan.,
    namun sngat sulit m’ngubah swtu kykinan.,
    aplge kbnykn dr mrk sngat me2gang kuat kyakinan na.,
    sprti yg ana lyt berita d’tlvsi.,
    wlaupun byk k’cman dr masy sktr,mrk te2p mnjlankan aktftas na.,
    so ap yg musti qt lakuin ney klo ad d’sktr qt ad aktfs ahmdyh?

  2. Assalamu alaikum wr.wb.
    numpang komentar nih.
    Sebenarnya saya setuju tentang kebebasan beragama warga negara harus dijunjung tinggi oleh negara. Berdasarkan UUD Tahun 1945, pasal 29. Cuma yang perlu ditekankan di sini adalah kebebasan yang dimaksud harus sesuai dengan aturan yang berlaku (pakem) pada agama tersebut. Contohnya dalam Islam, hanya mengakui Allah SWT sebagai Tuhan, dan Muhammad SAW sebagai Rasul Allah yang terakhir, beserta dengan aturan-aturan yang mengacu kepada ketauhidan (risalah), jika ada yang melenceng dari aturan tersebut, maka ia disebut sesat. Andaikan saja Ahmadiyah mendirikan agama baru, maka itu tidak akan menjadi suatu masalah, toleransi agama akan berjalan. Contoh, Katholik dan Protestan, adalah agama yang berbeda tapi memiliki kitab suci yang sama, ajaran teologi yang sama. Yang menjadi masalah sekarang adalah Ahmadiyah sudah melanggar 12 butir kesepahaman yang sudah ditandatangani di depan jaksa agung pada januari 2008, dimana salah satu butirnya menyatakan bahwa Ahmadiyah mengakui Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir, dan Mirza Ghulam Ahmad adalah hanya sebagai Guru, bukan sebagai Nabi, dan poin kesepahaman lain Tadzkirah bukan sebagai kitab suci, melainkan catatan perjalanan (diari) dari Mirza Ghulam Ahmad. Tapi pada kenyataannya pihak Ahmadiyah mangkir dari nota kesepahaman tersebut. Maka badan koordinasi pengawas agama dan aliran kepercayaan (BAKOR PAKEM), mengambil tindakan tegas, dengan mengajukan keberatan pada kejaksaan agung, sehingga keluarlah surat keputusan bersama (SKB) 3 menteri, yaitu Mendagri, Menteri Agama, dan Kejaksaan Agung, untuk membekukan organisasi dan kegitan Jamaah Ahmadiyah Indonesia.
    Jadi seandainya pihak Ahmadiyah mau menepati nota kesepakatan beberapa bulan lalu, maka mereka memang tidak perlu dibekukan (dibubarkan), TAPI???? (tanya kenapa)

  3. “….untuk mendekati Ahmadiyah didekati dengan cara yang baik pula. Bukan dengan kekerasan, aksi melempari, apalagi saling pukul dan lain-lain. Islam sendiri mengajarkan cara berdakwah dengan diskusi yang baik, dengan mau’idhatul hasanah, mujadalah atau perdebatan yang bagus secara dingin. Inilah yang lebih tepat sesuai dengan Al Qur’an,…..”

    setuju banget klo cara-cara kekerasan tuh nggak bisa ngentiin apapun apalagi dalam kasus Ahmadiyah ini. Islam nggak nganjurin banget cara-cara seperti itu. Tapi kenapa FPI yang getol dengan keIslamannya justru nggak nunjukkin cara-cara keIslaman dalam ngadapin suatu masalah? apa itu cerminan dari Islam? nggak! Justru mereka itulah yang bisa dianggep Islam dengan Aliran sesat, sesat karena sikap mereka yang Anarkis, nggak bisa nerapin ilmu Islam dalam kehidupan sehari-hari..
    Malah sikap yang ditunjukkin para pengikut Ahmadiyah yang ngejauhin perbuatan anarkis dan semacamnya, justru bisa mencerminan keIslaman mereka..

    kita nggak bisa nilai seberapa besar keimanan seseorang atau suatu kaum dari apa yang kita liat dengan mata..
    semua Ibadah, keyakinan dan keimanan cuma ALLAH SWT yang tau semuanya..

  4. yah…kumaha eta…???mungkin pembubaran dilakukan karena kita sampe ayeuna masih saja manteng ngeliat disekeliling kita ada orang2 beraliran sesat, pembubaran dengan cara kekerasan sebenernya juga gak salah c, dari pada sama sekali gak ada yang bergerak waktu ngeliat gerakan sesat kaya gitu, dan soal pendekatan secara baik2, yah… buktinya aja, pendekatan yang kaya gitu masih belum memperlihatkan hasil secara nyata kaya sekarang(teori itu mang gampang, gimana dengan prakteknya???) atau memang ternyata, pendekatan secara baik2 seperti itu memang belum dijalankan sampai sekarang?
    lalu baiknya gimana yaaaa???

    Reply:
    Ya baiknya kita rangkul agar mereka kembali ke jalan yang benar, bukannya malah di jauhin atau di pentungin, lha ya malah lari tho ya…

  5. sekarang gini bro…
    apakah golongan yang yang mengklaim ada nabi setelah muhammad bisa di sebut Islam!!??
    saya heran kenapa masih ada orang-orang yang bersikap abu-abu dalam masalah akidah seperti ini??? Jawab!!!
    Kalau ga mau dibubarkan mending buat agama baru aja, jangan pakai label Islam….
    Bagaimana Bung!!??

    Reply:
    Bukannya abu-abu bung Lanang, tapi caranya itu lho, jangan pake kekerasan..

  6. kalo masalah ibadah, kita bisa aja koq ngibarin bendera abu-abu..tapi kalo sdh masalah aqidah jawabanya cuma satu..lakum dinukum waliyadin..
    ni yg punya blog islam leberal / isalam moderat ya..

  7. bukan begini tapi bukan begiyu brother…

    tidak ada rosul lagi setelah nabi Muhammad saw…
    law ada yg mengklaim ada nabi setelah nabi Muhammad saw itu bukanlh islam…

    pemerintah terlalu takut membubarkan ahmadiyah…yg terbukti sesat…

    Allahuakbar,,,,,,

  8. BUBARKAN AHMADIYAH
    baik dengan kelembutan ataupun kekerasan.
    dua-duanya bisa dilakukan kan?
    gak ada ujung jika kita terus mentolerir masalah aqidah. alih2, kita yang me’monggo’kan nanti….

    tiada kata lagi…
    BUBARKAN AHMADIYAH!!!!

  9. ass
    ‘AFWAN ZHAHIR WAL BATHIN
    sedikit mengomentari kata2 MAS PUTRA :
    “Di sinilah penting untuk kita pahami secara jujur diktum Alquran dalam Al-Baqarah ayat 256 yang didalamnya dikatakan “Tidak ada paksaan dalam agama.” Jika Tuhan tidak mau memaksa hambanya untuk memeluk atau tidak memeluk agama, mengapa kita sebagai manusia mau main paksa atas nama Tuhan ? Sikap seperti inilah yang nantinya akan membuat kacau di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, Alquran jangan dibawa-bawa untuk menindas orang lain. Kekerasan atas nama agama adalah pengkhianatan yang nyata terhadap hakikat agama itu sendiri.”

    ISLAM TDK PERNAH MAMAKSAAN SESEORANG UTK MASUK ISLAM BUT MASALAHNYA AHMADIYAH ITU TLAH MLAKUKAN PENISTAAN TERHADAP AGAMA ISLAM. WONG MEREKA INGIN MASUK SYURGA SENDIRI :D . MEREKA TIDAK MENGAKU ORANG ISLAM YANG BUKAN JAMAAH MEREKA…MEREKA MENGANGGAP KITA DILUAR JAMAAH MEREKA SEBAGAI ‘BABI” :(
    AYO GMANA ITUU…AYAT TERSEBUT HANYA BERISI MENGENAI TIDAK ADANYA PAKSAAN DALAM AGAMA SAJA, BUKAN MASALAH PENISTIAN AGAMA…

    AFWAN ZHAHIR WAL BATHIN

    WA’ AFUMINKUM WASS WR.WB

  10. saya sangat setuju sekali utk merangkul mereka dengan cara yang baik, tanpa adanya kekerasan…kekerasan bukanlah perbuatan yg dianjurkan oleh Allah SWT & Rasullah SAW. tetapi kekerasan itu kan membuat citra umat islam menjadi hina dimata para musuh2 Allah swt.
    kita mendukung sekali kalo dari MUI, PBNU, Muhammadiyah mengeluarkan statemant yang menyatakan kalo mereka siap membina para jamaah Ahmadiyah yg sudah disesatkan oleh orang laknatullahi (mirza ghulam ahmad) untuk kembali ke akidah islam dan berpedoman kpd Al-quran dan hadits…bukan pd tazkirah & sunah mirza laknatullah.
    tetapi kita juga jangan lupa dan tinggal diam saja kalo islam sudah di obok2 oleh orang yang ingin menghancurkan akidah kita, membelokkan pa yg sudah diyakini umat ISlam.

  11. dalam bermasyarakat, islam menghendaki toleransi (Dalam konteks hablumminannas).

    tapi…
    perlu digaris bawahi:
    dalam perkara akidah,,,

    GAGH ADA KOMPROMI!!!

    bener2 penghujat Islam kalau ada yang mengakui nabi setelah muhammad saw.

  12. kalau mengakui Rasulullah khataman nabiyyin berarti kalau gitu kita semua harus sepakat bahwa nabi isa almasih tak akan turun di akhir zaman…..

    cz ntar bakalan banyak yang mengaku-ngaku sebagai isa as. Trus piye cara kita mengenali beliau?? lha wong ajaran islam uda sempurna, muhammad saw lah penyempurnanya!!!

    mirza ghulam ahmad. itu perkara tafsir, menurut mereka berdasarkan hadis shohih, mereka mengakui bahwa isa akan turun…

    sekarang masih banyak lhoo yg mengakui beliau isa sebagai nabi terakhir yg akan turun…. bukan hanya umat nasoro saja, tapi juga umat islam!!! yo wis kalau gitu toleransi sama ahmadiyah itu wajar!!!!!

    hanya beda tafsiran! jangan merasa tafsiran anda2 itu paling BENAR SENDIRI,, orang yg merasa benar dalam menafsirkan firman Tuhan justru mereka itu yg berada di lembah kesesatan KEMUSYRIKAN! dosa yg tak terampuni!!! lho koq bisa?! karena mereka menyamakan dirinya dengan Allah!

    buAT mas putra sbagi penulis… perlu ditambahkan! bahwa kita harus meletrakkan PONDASI AKHLAK diatas perbedaan fikih, perbedaan mazhab, perbedaan keyakinan dan agama…
    AKHLAK HARUS BERADA DIATAS SEGALANYA….

    setuju….

    Reply:
    Setuju-setuju..

  13. Salam,

    Menurut saya soal Era Reformasi bukanlah era Kebebasan yang selalu digaung-gaungkan oleh para Politisi dan Oportinis, Reformasi menghendaki keteraturan dan penerapan ketatanegaraan yang sesuai dengan kaedah dan kepatutan.
    Zaman rezim Suharto banyak kaedah2 dan kepatutan disalahgunakan, akibatnya terjadi ketidakseimbangan tatanan negara, sosial dan budaya serta kebiasaan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme menjadi aturan yang wajar dalam segala urusan.
    Justru pihak2 yang menganggap ra Reformasi merupakan era kebebasan dengan semau gue merupakan kondisi yang kontra Reformasi.

    Reply:
    Betul

Leave a Reply