<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PUTRA PURNAMA</title>
	<atom:link href="http://putrapurnama.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://putrapurnama.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Jan 2012 04:55:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='putrapurnama.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>PUTRA PURNAMA</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://putrapurnama.wordpress.com/osd.xml" title="PUTRA PURNAMA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://putrapurnama.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Makna Bermuhammadiyah Menurut K.H. Suprapto Ibnu Juraemi</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/05/01/makna-bermuhammadiyah-menurut-kh-suprapto-ibnu-juraemi/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/05/01/makna-bermuhammadiyah-menurut-kh-suprapto-ibnu-juraemi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 03:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[Mengenang K.H. S Ibnu Juraemi. Allahumma, inna ustadzuna Suprapto Ibnu Juraimi, fi dzimmatika wa habli jiwarika, faqihi fitnatal qabri wa-adzabannar, wa anta ahlul wafa-i wal haq, faghfirlahu warhamhu, innaka antal ghafurur rahim. Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=676&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-679" title="muhammadiyah1" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2009/05/muhammadiyah1.gif?w=468" alt="muhammadiyah1"   />Mengenang K.H. S Ibnu Juraemi. Allahumma, inna ustadzuna Suprapto Ibnu Juraimi, fi dzimmatika wa habli jiwarika, faqihi fitnatal qabri wa-adzabannar, wa anta ahlul wafa-i wal haq, faghfirlahu warhamhu, innaka antal ghafurur rahim.</p>
<p>Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik, dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.</p>
<p><span id="more-676"></span>Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan. Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga “ambisi” menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat. Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.</p>
<p>Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam? Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya “Beranikah kamu beragama Islam?”. Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, “Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu”. Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.</p>
<p>Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H.Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu pertanyaan. Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, “Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe” (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).</p>
<p>Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An’am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.</p>
<p>Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw. Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin. Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi, dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin, pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin. Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan ibadah. Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi adalah pengorbananku. Jadi, “shalatku, pengorbananku, hidup matiku, lillahi rabbil alamin”.</p>
<p>Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… “Sungguh, shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah”. Dalam terjemah Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang bisa tertegun, “Hanya karena untuk Allah rabbil alamin.” Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai Dahlan dengan terjemahan tafsir “itu tidak untuk selain Allah”. Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap sekutu. Lalu ayat tadi bermakna apa? “Shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta”. Laa syarikalah, tidak ada sekutu selain Allah. “Aku diperintah untuk hidup dengan model cara yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan tanah airku”. Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan. Hidupku tidak untuk itu. Pertanyaannya, lalu untuk apa? “Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan tanah air, tetapi karena Allah”. Di sini lalu maknanya, “berbuat baiklah kamu kepada orang tuamu”. Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua, tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata “wa-ahsinuu, …..birrul walidaini”. Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan “wa ana awwalul muslimin. Oo.., ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang lain.</p>
<p>Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yangnamanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya’buduun. Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain. Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah. Di situlah makna hakekat dari Islam.</p>
<p>Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup menjawab. Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye, jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir, yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput mobil.</p>
<p><strong>Pertama, Bermuhammadiyah adalah berislam.</strong></p>
<p>Ungkapan ini memang cukup tandas.Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan itu, “Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar fitnah”. Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal Rasululah.</p>
<p>Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalna haadzal qur’ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.</p>
<p>Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar, simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.</p>
<p>Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran, kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending, kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum’at Shubuh, Nabi selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada. Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak apalagi diamalkan.</p>
<p>Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal. Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap Islamnya.</p>
<p>Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat gado-gado. Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif, membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu, diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung menjadi satu, Pancasila.</p>
<p>Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam. Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.</p>
<p>Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam. Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji, itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi keluarga sakinah.</p>
<p>Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah, bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya, pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap masalah ini. Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis kalimat itu, hanya mendengar sepintas, “Hidup sepanjang kemauan Islam”.</p>
<p>Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari bermuhammadiyah itu.</p>
<p>Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja. Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma. Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi, tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua, warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.</p>
<p>Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang mengamalkan hal ini.</p>
<p><strong>Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah</strong></p>
<p>Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat mereka dalam “wa-tawashau bil haq”. Ada sebutan yang cukup populer pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang seperti itu disebut mubaligh cleleng.</p>
<p>Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan mengucap salam, “Selamat pagi, Pak!”. Beliau bertanya, “Kamu siapa?” “Saya mahasiswa Bapak”, katanya. “Kembali sana, ucapkan dulu “Assalamu’alaikum”. Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan “kulonuwun“. Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab, padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar Muzakkir sambil berkata, “Kibir kamu ya?” “Kenapa?” tanya orang itu. Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya mengucap salam “Assalamu’alaikum” kalau bertamu ke rumah orang koq malah “kulonuwun”. Inilah contohnya mubaligh cleleng.</p>
<p>Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut. Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil ’alamin dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.</p>
<p>Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab, “Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah bertabligh.</p>
<p>Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah. Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal diJogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa. Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, “Wong saya sendiri yang menyusun koq disuruh merubah”, kata Pak Usman. Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya, dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya kitab tauhid, “Al Ushulust-tsalasah”,30) ketika ajarannya diambil, mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka, yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti. Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.</p>
<p>Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.</p>
<p>Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid’ah. Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi. Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah melangkah lebih lanjut. Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini, selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang singkat.</p>
<p>Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu. Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa menjawab. Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo, Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?</p>
<p>Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain, adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat. Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden, terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di bidang pendidikan.</p>
<p>Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta. Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah. Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita ini termasuk sebagai pewaris falsafah “sendu” (seneng duit), merasa senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang senang terhadap duit. Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana pengaruh pendidikan Muhammadiyah.</p>
<p>Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya, belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.</p>
<p><strong>Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi</strong></p>
<p>Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran, sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu, organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga saja yang menjadi harapannya.</p>
<p>Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya. Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada saat lahirnya Muhammadiyah.</p>
<p>Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat Haji Wada’ jumlah jama’ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu. Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700 ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk surga sebelum Rasullah meninggal.</p>
<p>Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu. Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal uswah hasanah saja.</p>
<p>Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan, ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu. Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti. Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh, orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, “Pantas kalau Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah”. Orang itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan, yang berasal dari negeri Minangkabau.</p>
<p>Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya, Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang lalu. Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit, sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.</p>
<p>Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi. Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80 ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat. Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut, kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu, maka sisanya dikembalikan.</p>
<p>Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya, dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah tidak boleh seperti itu.</p>
<p>Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari 200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30 juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ, yang dikenal sebagai da’i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.</p>
<p>Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY, UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada sedikit yang berasal dari IPM/IRM. Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah, koq setelah sholat malah yasinan. Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?</p>
<p>Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling tidak selama tiga tahun mereka kita didik.</p>
<p>PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius. Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah” masih relevan? Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah. Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.</p>
<p>Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan, tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis dhoif. Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh pengorbanan beliau.</p>
<p>Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor, sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana, misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami Muhammadiyah tersebut. Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja. Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu, panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman beliau atas surat Al-Maun.</p>
<p>Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya, untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan, dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau tidak kita jadikan kader kita.</p>
<p><strong>Keempat dan Kelima, Bermuhammadiyah adalah Berjuang dan Berjihad serta Berkorban</strong>. Yang keempat, bermuhammadiyah itu berjuang dan berjihad. Yang kelima, bermuhammadiyah adalah berkorban. Untuk dua hal yang terakhir ini belum sempat saya angkat. Sebenarnya mau saya sampaikan karena waktunya belum ada, maka saya minta maaf.</p>
<p>*) Transkrip Ceramah Ustadz Ibnu Juraimi dalam Pengajian<br />
di PDM Temanggung Jawa Tengah.<br />
Ditranskrip oleh Arief Budiman Ch.<!--more--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/676/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=676&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/05/01/makna-bermuhammadiyah-menurut-kh-suprapto-ibnu-juraemi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2009/05/muhammadiyah1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">muhammadiyah1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerudung Putih</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/03/23/kerudung-putih/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/03/23/kerudung-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 16:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[Seraut wajah cantik yang kausembunyikan Di balik kerudung putih Di balik kerudung wajahmu tersembunyi Kau cantik alami anugerah Ilahi Tapi bukan karena itu aku cinta padamu Juga bukan karena itu aku sayang padamu Kauhiasi diri dengan budi pekerti Kauhambakan diri ke hadirat Ilahi Itulah yang menyebabkan aku cinta padamu Itulah yang menyebabkan aku sayang padamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=596&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-607" title="graphic22" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2009/03/graphic22.jpg?w=131&#038;h=223" alt="graphic22" width="131" height="223" />Seraut wajah cantik yang kausembunyikan<br />
Di balik kerudung putih</p>
<p>Di balik kerudung wajahmu tersembunyi<br />
Kau cantik alami anugerah Ilahi<br />
Tapi bukan karena itu aku cinta padamu<br />
Juga bukan karena itu aku sayang padamu</p>
<p>Kauhiasi diri dengan budi pekerti<br />
Kauhambakan diri ke hadirat Ilahi<br />
Itulah yang menyebabkan aku cinta padamu<br />
Itulah yang menyebabkan aku sayang padamu</p>
<p>Di balik kerudung wajahmu tersembunyi<br />
Kau cantik alami anugerah Ilahi</p>
<p><span id="more-596"></span>Tiada lelaki yang membantah<br />
Kecantikan wajahmu, kelembutan sikapmu<br />
Keindahan senyummu</p>
<p>Tapi yang menyilaukan mata<br />
Sinar keimananmu yang selalu kaupancarkan<br />
Dalam setiap langkah</p>
<p>Gadis seperti kamu yang aku dambakan</p>
<p>*) Di Populerkan oleh Bang H. Rhoma Irama</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/596/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=596&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/03/23/kerudung-putih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2009/03/graphic22.jpg?w=180" medium="image">
			<media:title type="html">graphic22</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semangat Pergerakan Dakwah Universitas Islam Indonesia</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/03/18/semangat-pergerakan-dakwah/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/03/18/semangat-pergerakan-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 22:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[Korp Dakwah Universitas Islam Indonesia (KODISIA) dan lembaga-lembaga dakwah yang ada di fakultas atau yang lebih dikenal dengan LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) adalah salah satu wadah bagi kelompok-kelompok umat yang mendapat amanah Allah untuk senantiasa berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar, menebarkan serta mempertahankan kebaikan dan kebenaran. Agar sampai pada apa yang dimaksudkan, maka dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=515&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-616" title="logo-uii" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2009/03/logo-uii.jpg?w=468" alt="logo-uii"   /></p>
<p>Korp Dakwah Universitas Islam Indonesia (KODISIA) dan lembaga-lembaga dakwah yang ada di fakultas atau yang lebih dikenal dengan LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) adalah salah satu wadah bagi kelompok-kelompok umat yang mendapat amanah Allah untuk senantiasa berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar, menebarkan serta mempertahankan kebaikan dan kebenaran. Agar sampai pada apa yang dimaksudkan, maka dalam beramar ma’ruf nahi munkar hendaknya KODISIA, beserta LDF yang lain seperti Al-Mustanir (FTSP), Al-Ghuroba (FMIPA), CENTRIS (FTI), JAFANA (FPSIB), JAFI (D3 Ekonomi), CMIA (FK), JAM (FE), JAF (FIAI),dan Al Azhar (FH) perlu mengambil spirit/semangat pergerakan yang ada dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat ke-104.</p>
<p><span id="more-515"></span>Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat ke-104 tersebut selain memberikan perintah untuk beramar ma’ruf nahi munkar, juga tersirat untuk memberikan perintah tentang wajibnya mendirikan organisasi (KODISIA &amp; LDF) bagi kepentingan dakwah Islam dengan logika fiqhiyah: “ma layatim al-wajib illa bihi fa huwa wajib”, bahwa manakala suatu kewajiban itu tidak akan sempurna jika tanpa sesuatu yang lain (organisasi), maka “sesuatu yang lain” dalam hal ini organisasi kemudian menjadi wajib adanya. Organisasi bukanlah hal yang bid’ah, tetapi kewajiban agama untuk mewujudkan risalah Islam dan terwujudnya masyarakat Islam yang dicita-citakan. Selain itu, Ali bin Abi Thalib juga pernah mengatakan, “al-haqqu bilaa nidhaamin yaghlibuhul baathilu bin nidhaam ; kebenaran yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi secara rapi”, sehingga jelas bahwa organisasi sangatlah penting bagi keberlangsungan dakwah.</p>
<p>Lantas, demikian pentingkah semangat yang terkandung dalam surat Ali Imran ayat ke-104 bagi pergerakan dakwah KODISIA dan LDF ? Tentu saja sangat penting dan mendalam. Kata “waltakum minkun ummatun” menurut As-Syuyuthi maksudnya “li-takun al-ummat”, yakni suatu proses untuk membentuk “segolongan umat”, yakni mereka yang menjalankan dakwah Islam, yang mengandung arti perintah atau kewajiban berdakwah. Jadi, harus ada pelaku utama dalam perjuangan dakwah, bukan sembarang orang atau kelompok, tetapi segolongan umat yang terpilih. Agar proses dan tujuan dakwah Islam itu terwujud diperlukan sistem gerakan atau sistem perjuangan, yang antara lain berupa wadah untuk bergerak secara teratur dan tersistem.</p>
<p>Sedangkan Imam Al-Jalalain memberi keterangan tentang kata “minkum” (sebagian kamu) dalam ayat tersebut yakni: wa min li-tab‘id li-anna ma dzukira fardlu kifayat la yulzama kullu al-ummat wa la yulbaqa bi-kulli ahadi ka-al-jahil ; artinya, <em>&#8220;Dan kata “min” untuk menunjukkan sebagian, karena apa yang diperintahkan itu merupakan fardlu kifayah, yang tidak berlaku sebagai keharusan bagi seluruh umat dan tidak diberlakukan bagi setiap orang, seperti bagi orang-orang yang bodoh&#8221;</em>. Jadi, mereka yang melakukan dakwah harus terdiri atas orang-orang pilihan yang terorganisasi dengan baik.</p>
<p>Akhiru kalam, jika ingin mengemban risalah dakwah maka haruslah dilakukan oleh sekelompok orang yang memiliki keunggulan, tidak asal orang atau sekelompok orang, karena harus menjadi pelaku (fa‘il) dalam gerakan itu sendiri. Bahkan Abi Bakr Jabir Al-Jazairi dalam kitab Aiysar al-Tafasir li al-Hukm al-‘Aly al-Kabir menunjukkan yang dimaksud dengan “ummat” dalam ayat tersebut ialah al-mujahiduna, yakni para pejuang dakwah yang melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar secara gigih. Yakni, orang-orang yang berjihad dan melakukan tindakan-tindakan mengajak pada kebaikan serta mencegah kemunkaran. Jadi “al-ummah” di sini benar-benar “segolongan orang” yang seharusnya terpilih atau memiliki keunggulan dan kualitas sebagai “mujahid dakwah” atau “mujahid gerakan Islam”, yang gigih dan cerdas, yang unggul di segala bidang, serta bukan sekumpulan orang-orang pasif dan jumud.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>*) Dari Berbagai Sumber</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/515/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/515/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/515/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=515&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/03/18/semangat-pergerakan-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2009/03/logo-uii.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">logo-uii</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Qiro’ah, Tilawah, Tadarus, dan Tadabbur</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/02/17/qiro%e2%80%99ahtilawahtadarusdan-tadabbur/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/02/17/qiro%e2%80%99ahtilawahtadarusdan-tadabbur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 16:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Generasi terdahulu umat Islam dari kalangan Sahabat dan Tabi’in kata Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah selalu berkumpul untuk tilawah dan saling menyimak Al-Qur’an dalam rangka menata hati dan mensucikan jiwa mereka. Rumah-rumah mereka, khususnya di bulan Ramadhan, berdengung tak ubahnya lebah-lebah, terpancari sinar, bertabur kebahagiaan. Mereka membaca Al-Qur’an dengan tartil, berhenti sejenak pada ayat-ayat yang membuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=403&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-459" title="membaca1" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2009/02/membaca1.jpg?w=468" alt="membaca1"   />Generasi terdahulu umat Islam dari kalangan Sahabat dan Tabi’in kata Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah selalu berkumpul untuk tilawah dan saling menyimak Al-Qur’an dalam rangka menata hati dan mensucikan jiwa mereka. Rumah-rumah mereka, khususnya di bulan Ramadhan, berdengung tak ubahnya lebah-lebah, terpancari sinar, bertabur kebahagiaan. Mereka membaca Al-Qur’an dengan tartil, berhenti sejenak pada ayat-ayat yang membuat mereka ta’jub, menangis di kala mendengar keindahan nasehat-nasehatNya, gembira dengan kabar kebahagiaan. Mereka mentaati perintahNya sebagaimana menjauhi larangaNnya.</p>
<p>Dan ternyata makna qiro’ah – tilawah – tadarus – tadabur memiliki makna yang berbeda-beda aplikasinya dalam menyikapi Al Qur’an sebagai kitab suci bagi umat muslimin ini. Lantas apa perbedaannya ? apa saja definisi-definisinya ? Nah, mari kita tinjau sejenak bersama-sama.</p>
<p><span id="more-403"></span>Kata &#8220;<em>tilawah</em>&#8221; dengan berbagai derivasi dan variasi maknanya dalam Al-Qur’an terulang/disebutkan sebanyak 63 kali. Kata <em>tilawah</em> ini dalam beberapa kitab seperti dalam <em>al-Mishbah al-Munir fi Gharib al-Syarh al-Kabir</em>, Al-Shahib Ibn ‘Ibad dalam <em>al-Muhith fi al-Lughah</em>, Ibnu Mandhur dalam <em>Lisan al-‘Arab</em>, dan dalam <em>Mukhtar al-Shihah</em>, secara leksial/harfiah mengandung makna &#8220;bukan sekedar&#8221; membaca (<em>qiro&#8217;ah</em>).</p>
<p>Hemat kata, tilawah dapat diartikan sebagai pembacaan yang bersifat spiritual atau aktifitas membaca yang diikuti komitmen dan kehendak untuk mengikuti apa yang dibaca itu. Sedangkan <em>qiro&#8217;ah</em> dapat dimaknai sebagai aktifitas membaca secara kognitif atau kegiatan membaca secara umum, sementara <em>tilawah</em> adalah membaca sesuatu dengan sikap pengagungan. Oleh karena itu, dalam Al Qur’an kata <em>tilawah</em> sering digunakan daripada kata <em>qiro&#8217;ah</em> dalam konteks tugas para Rasul ‘alaihimussalam.</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitabnya <em>Majalis Syahr Ramadlan</em> menguraikan cakupan makna tilawah dalam dua macam :</p>
<p>Pertama – Tilawah hukmiyah, yaitu membenarkan segala informasi Al Qur’an dan menerapkan segala ketetapan hukumnya dengan cara menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.</p>
<p>Kedua – Tilawah lafdziyah, yaitu membacanya. Inilah yang keutamaannya diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadits Bukhari: <strong>خَيرُكُم مَنْ تعَلَّمَ القُرآنَ وعَلَّمَه</strong>; sebaik-baiknya diantara kamu adalah yang belajar Al Qur’an dan yang mengajarkannya&#8221;.</p>
<p>Adapun kata <em>tadarus</em> berasal dari kata (<em>darosa</em>) yang berarti membaca (<em>qiro&#8217;ah</em>) atau berlatih dan selalu menjaga <strong>(الرياضة والتعهد للشيئ)</strong>. Ketika ada imbuhan huruf <em>ta&#8217;</em> dan <em>alif</em> pada kata <em>darasa</em>, maka maknanya berubah menjadi &#8216;saling membaca&#8217;. Dari sinilah kita kenal kata &#8220;<em>tadarus</em>&#8221; atau &#8220;<em>mudarasah</em>&#8220;. Sehingga dua kata ini dapat diartikan &#8220;membaca, menelaah, dan mendapatkan ilmu secara bersama-sama, di mana dalam prosesnya mereka sama-sama aktif&#8221;. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah s.w.t. di Ali ‘Imran:79<strong>مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُون</strong>; tidak wajar bagi manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: &#8220;Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.&#8221; Akan tetapi (dia berkata): Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap <em>mempelajarinya</em>”.</p>
<p>Sampai disini dapat dipahami bahwa, <em>mudarasah</em> atau <em>tadarus</em> merupakan sebuah proses atau mekanisme untuk melakukan tadabur Al Qur’an.</p>
<p>Sedangkan kata &#8220;<em>tadabbur</em>&#8221; sendiri terdapat diantaranya dalam QS. An Nisaa’ ayat 82, secara leksikal/harfiah <em>tadabbur</em> mengandung beberapa filosofi makna, yakni: refleksi (reflection), meditasi (meditation), berfikir (thinking), pertimbangan (consideration) dan perenungan (contemplation). Mencermati rangkaian makna terbaca, kata ini memiliki makna integral dalam konteks kecerdasan manusia; intelektual, spiritual dan moral. Itulah kemungkinan yang dapat kita tangkap mengapa Al-Qur’an menggunakan kata <em>tadabbur</em>.</p>
<p><strong>Interaksi yang Produktif</strong></p>
<p>Agar visi <em>tadarus</em>/<em>mudarasah</em> Al-Qur’an tercapai dengan baik maka, perlu memperhatikan beberapa hal di bawah ini :</p>
<p><em>Pertama</em>, memiliki pandangan integral terhadap Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan <em>dustur Ilahi</em> yang menata dan mengarahkan kehidupan.</p>
<p><em>Kedua</em>, pembacaan, tadabbur dan mencermati secara mendalam. Bagian ini terwujud dengan dua hal pula :</p>
<p>a) verifikasi pemahaman dan ilmu kita tentang al-Qur’an.<br />
<strong>أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرً </strong>; maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya). (QS. An Nisaa’:82)</p>
<p>b) aktualisasi ajaran al-Qur’an dalam lapangan kehidupan nyata, bukan sekedar pengetahuan wacana dan bersifat kognitif belaka; baik pada tataran pribadi, keluarga dan masyarakat. Ini berarti al-Qur’an menjadi kode etik kehidupan kita.</p>
<p><em>Ketiga</em>, memegang komitmen yang baik tentang <em>manhaj talaqqi</em>. Artinya, menancapkan dalam sanubari kita serta merasakan ‘seolah-olah’ Al-Qur’an diturunkan kepada kita dan kita berdialog aktif dengannya.</p>
<p><strong>Fungsi serta Manfaat Mudarasah dan Tadabbur</strong></p>
<p>1. Sarana dan media untuk menambah ilmu. Tentunya, dengan melakukan <em>mudarasah </em>secara bersama-sama dengan orang lain semakin menambah cakrawala keilmuan kita. Ingat, Rasulullah s.a.w. selalu rajin mempelajari Al-Qur’an dan mencermati ayat-ayatnya, sehingga beliau mengetahui dengan sempurna maksud dan maknanya dengan tadarus/mudarasah bersama Jibril <em>‘alaihissalam</em>.<br />
2. Membantu proses menjaga Al-Qur’an yang telah kita kuasai serta tidak mudah lupa dan lalai.<br />
3. Memupuk dan membina rasa persaudaraan dan rasa sepenanggungan sesama muslim. Dengan demikian, Islam telah melakukan proses pendidikan nalar kolektif dan etika bersama; kita membangun karakter yang kuat.<br />
4. Sebagai sarana dan media <em>tazkyatun nufus</em>, mensucikan jiwa.<br />
5. Mendatangkan rahmat dan ketenteraman bagi umat.<br />
6. Memperbaiki kualitas tilawah.<br />
<strong>ورتل القرآن ترتيلا </strong>; Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan). (Al Muzzammil:4)</p>
<p>Akhiru kalam, tetap semangat, tetap bergairah, dan tetap istiqomah dalam membumikan Al Quran.</p>
<p>Walahu a’lam</p>
<p>*) H. Fathurrahman Kamal (MTDK PP Muhammadiyah)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=403&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/02/17/qiro%e2%80%99ahtilawahtadarusdan-tadabbur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2009/02/membaca1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">membaca1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mau kemana nomor 8 ?</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/01/22/mau-kemana-nomor-8/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/01/22/mau-kemana-nomor-8/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 10:01:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Mau ke mana Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Pertanyaan inilah yang muncul di benak banyak orang akhir-akhir ini. Menjelang Pemilu 2009 partai dakwah yang satu ini memang banyak memancing perhatian dengan manuver-manuver politik tak terduga. Serial iklannya yang mengangkat sejumlah tokoh sejarah menuai kritik. Iklan PKS yang menampilkan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari mendapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=301&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-316" title="pks1" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2009/01/pks1.jpg?w=468" alt="pks1"   />Mau ke mana Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Pertanyaan inilah yang muncul di benak banyak orang akhir-akhir ini. Menjelang Pemilu 2009 partai dakwah yang satu ini memang banyak memancing perhatian dengan manuver-manuver politik tak terduga. Serial iklannya yang mengangkat sejumlah tokoh sejarah menuai kritik.</p>
<p>Iklan PKS yang menampilkan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari mendapat tanggapan dari kalangan Muhammadiyah dan NU. Pendukung dua ormas besar itu menuding PKS mengincar warga mereka. Padahal, pandangan keagamaan PKS tidak sejalan dengan ajaran dua tokoh tersebut.</p>
<p>Terlebih lagi ketika sebuah sekuel iklan PKS menampilkan mantan Presiden Soeharto. Kritik pedas berdatangan silih berganti. PKS dituding berbalik langkah, dari partai yang reformis menjadi parpol yang pragmatis. Menghalalkan segala cara untuk menarik massa.</p>
<p><span id="more-301"></span>Pastilah reaksi keras itu tidak sulit dipahami. Kita semua mengetahui bagaimana reformasi merupakan gerakan bersama untuk menolak politik otoritarian Orde Baru, dan ketika itu, PKS termasuk yang paling lantang berteriak reformasi. Tapi kini ? Baru 10 tahun berlalu, PKS seolah melupakan semangat itu demi meraup kekuasaan.</p>
<p>Sebenarnya pragmatisme PKS bukan fenomena baru. Kemauan dan kemampuan mengambil langkah politik taktis terlihat sejak Pemilu 2004. Melihat hal ini &#8211; menurut  ilmuwan politik &#8211; membagi perilaku partai politik ke dalam tiga kategori: perilaku dalam organisasi, perilaku dalam pemilu, dan perilaku dalam pemerintahan. Dalam ketiga ranah ini, perlahan tapi pasti PKS makin taktis, rasional, pragmatis.</p>
<p>Dalam organisasi contohnya, parpol yang banyak diawaki mantan aktivis masjid kampus ini terkena apa yang disebut sebagai &#8220;hukum besi oligarki&#8221;. Pada masa-masa awal kelahirannya, kendali partai politik berada di tangan anggotanya (demokratis). Namun, seiring dengan perjalanan waktu, kepemimpinan akan beralih ke tangan segelintir pimpinan (oligarki) karena tuntutan efektivitas organisasi. Dan ini dialami PKS. Pada awal sejarah partai ini, ketika itu bernama Partai Keadilan (PK) anggaran dasar partai menyebutkan, lembaga pengambil keputusan tertinggi adalah musyawarah nasional. Artinya, setiap keputusan penting selalu dirembuk dan dibicarakan bersama oleh anggota partai. Perkembangan berikutnya, setelah berubah menjadi PKS, anggaran dasar partai menyatakan, lembaga pengambil keputusan tertinggi adalah Majelis Syuro. Keputusan tertinggi cukup di tangan sekelompok pimpinan.</p>
<p>Demikian pula dalam perilaku pemilu, PKS mengalami perubahan drastis dari idealis menjadi taktis dan pragmatis. Menjelang Pemilu 1999, Dewan Syariah PK &#8211; lembaga yang bertugas membuat putusan agama untuk anggota dan simpatisan partai mengeluarkan seruan kepada kader dan pendukung PK untuk tidak terjebak dalam kesibukan mencari pemilih. Sebab menurut Dewan Syariah, partai ini didirikan bukan untuk mengejar kekuasaan, melainkan untuk menebar dakwah. Alhasil Dewan Syariah menyerukan kepada segenap kader dan pendukung untuk lebih banyak meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebab hanya  Tuhan yang Mahakuasa yang bisa membuat sebuah partai menang atau kalah. Hasilnya ? Dan terbukti, PK gagal!</p>
<p>Menjelang Pemilu 2004, sikap dan perilaku PKS berbalik nyaris 180 derajat. Pada periode ini, PKS meyakini, keberhasilan partai dalam pemilu adalah kecerdasan menyusun strategi dan kegigihan menjalankan kampanye. PKS pun melatih kader-kadernya dengan berbagai keterampilan profesional dalam persuasi dan propaganda politik. Mereka menyewa konsultan profesional untuk melatih kader partai berhubungan dengan media dan membuat berita. Yang lebih menarik, Dewan Syariah PKS kemudian mengeluarkan seruan bahwa yang terpenting dilakukan para kader adalah mengajak orang mencoblos PKS. Soal dakwah bisa dilakukan setelah itu. Hal ini contohnya dilakukan PKS pada sela-sela di kegiatan “liqo”-nya ataupun dengan kegiatan “spreading”-nya serta kegiatan-kegiatan PKS yang lain.</p>
<p>Perkembangan yang makin pragmatis juga terjadi dalam perilaku PKS di pemerintahan (legislatif dan eksekutif). Pada zaman PK, meski gagal melampaui electoral treshold 2% dan tidak bisa mengikuti pemilu berikutnya, PK berhasil mengirim tujuh wakilnya di DPR. PK juga sempat mendapat jatah satu kursi di kabinet Presiden Abdurrahman Wahid. Pada periode ini, perilaku kader-kader partai di pemerintahan lebih mencerminkan gagasan ideal sebuah partai politik yang ingin melakukan perubahan besar. Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail begitu gencar memburu koruptor kakap, yang membuatnya harus berbenturan dengan presiden dan terdepak dari kabinet. Ketika itu, PK juga hanya bersedia berkoalisi dengan partai Islam. Terbukti, partai ini menolak tawaran posisi menteri dalam kabinet Megawati yang notabene berasal dari PDI, pada saat setelah Gus Dur dimakzulkan MPR.</p>
<p>Namun kiprah kader partai dakwah ini berubah banyak ketika berganti menjadi PKS. Menjelang pemilihan presiden 2004, PKS tidak bulat mendukung Amien Rais yang notabene representasi politisi muslim yang sejalan dengan identitas politik PKS. Sebagian pimpinan PKS lebih memilih Wiranto karena alasan pragmatis politik bahwa yang terakhir ini lebih punya kans memenangkan kompetisi. Di arena pemilihan kepala daerah, PKS tidak canggung lagi berkoalisi dengan parpol yang tidak berbanderol Islam. Bahkan ia menjalin koalisi dengan partai Kristen, PDS.</p>
<p><strong>Arah PKS</strong></p>
<p>Lantas mau ke mana sebenarnya PKS? Kalau melihat perubahan dari idealis menjadi pragmatis tadi, apakah PKS akan berubah menjadi seperti partai politik yang lain? Bukan lagi partai dakwah yang bercita-cita membangun masyarakat Islam dan memperjuangkan Islam dalam ranah politik?</p>
<p>Sebenarnya tidak juga. Kalau kita cermati lebih dekat, akan terlihat bahwa meskipun partai ini berubah cukup drastis, dari idealis di zaman PK menjadi pragmatis di zaman PKS, ia tidak pernah mengubah rumusan ideologinya. Ia tetap partai Islamis yang evolutif yang meniru gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, yang bercita-cita memperjuangkan terbentuknya masyarakat Islami melalui pembentukan jaringan kader untuk menumbuhkan individu-individu Islami. Individu-individu ini nantinya membangun unit-unit keluarga Islami, yang akan melahirkan dan mendidik generasi Islami. Ketika sudah terbentuk generasi Islami, akan terbentuk masyarakat Islami. Jika sampai di sini, tuntutan akan sistem politik dan kebijakan yang Islami hanya menunggu waktu.</p>
<p>Lalu, apa yang membuat partai yang memiliki reputasi bersih ini seolah berubah pikiran menjadi pragmatis? Di satu sisi, ada sebagian komentator mengungkapkan bahwa pragmatisme PKS tidak lebih dari sekadar kamuflase untuk menutupi agenda mereka yang sebenarnya. Mereka ingin terlihat moderat untuk mendapatkan dukungan massa sebanyak-banyaknya.</p>
<p>Setelah mereka memenangkan kekuasaan, menurut pendapat ini, PKS baru akan menunjukkan wajah aslinya yang Islamis. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa politisi PKS sebenarnya tidak beda dari politisi pada umumnya, yang berorientasi kekuasaan. Menurut pandangan ini, pimpinan PKS baru menyadari bahwa politik memang harus pragmatis.</p>
<p>Tapi, dalam tilikan yang lebih teoretis, kedua pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Pragmatisme PKS bukanlah karena ingin menutupi hidden agenda politik Islamis dan bukan semata pragmatisme yang banal. Melainkan lebih karena produk aturan main politik demokrasi yang dibangun dan diinstitusionalisasikan di negeri ini selama 10 tahun terakhir.</p>
<p>Tapi harus diingat bahwa partai-partai politik tidak bermain di ruang kosong, melainkan dalam sebuah bingkai bernama institusi demokrasi. Institusi adalah tatanan untuk mengatur perilaku manusia. Dan institusi itu sendiri memiliki dua fungsi pokok.</p>
<p>Pertama, institusi menyediakan aturan berperilaku. Dalam bingkai institusi (dalam hal ini demokrasi), perilaku partai politik menjadi teratur dan mudah diprediksi. Institusi yang stabil, dengan demikian, memotivasi aktor politik untuk berperilaku rasional dan terprogram. Kedua, institusi berfungsi menfasilitasi distribusi kepentingan secara lebih adil. Artinya, dalam institusi yang stabil, aktor politik akan terdorong untuk saling bekerja sama.</p>
<p>Lebih lanjut, institusi dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu institusi formal dan informal. Yang pertama merujuk pada aturan main yang terkodifikasi, misalnya konstitusi, hukum, hingga kontrak. Sedangkan yang kedua merujuk pada sistem yang mengatur perilaku tapi tidak terkodofikasi. Contohnya budaya, agama, dan ideologi.</p>
<p>Dalam analisis ini, baik yang formal maupun informal, institusi memiliki fungsi sama. Keduanya memiliki hubungan saling melengkapi. Institusi formal membantu institusi informal supaya lebih efektif. Misalnya, undang-undang biasanya merupakan formalisasi nilai budaya dan agama di masyarakat. Sebaliknya, institusi informal membantu mencari jalan bila institusi formal tidak berfungsi dengan baik.</p>
<p>Teori ini cukup akurat untuk menjelaskan pragmatisme PKS. Pragmatisme itu bukan upaya menutupi agenda tersembunyi dan bukan pula karena PKS tidak lagi peduli pada ideologi partai dakwah. Pragmatisme lebih merupakan buah institusionalisasi sistem demokrasi. Sebab sebenarnya perilaku partai politik tidaklah hanya didorong oleh ideologi, melainkan juga dipengaruhi aturan main, yaitu sistem demokrasi.</p>
<p>Seperti penjelasan diatas, ideologi sebagai institusi informal dan demokrasi sebagai institusi formal selalu berbanding terbalik. Ketika masih bernama PK, institusi formal (sistem demokrasi) yang ada pada waktu itu belum stabil. Karena itu, PK cenderung berperilaku ideologis. Namun ketika sistem demokrasi makin berjalan baik dan aturan main politik makin stabil &#8211; dengan berbagai amandemen UUD serta penyempurnaan UU Pemilu dan Pemilihan Presiden, UU tentang Fungsi dan Kedudukan DPR, UU Partai Politik, dan lain-lain &#8211; partai dakwah yang kemudian bernama PKS ini pun cenderung berperilaku mengikuti institusi formal: rasional, taktis, pragmatis.</p>
<p>Jadi, mau ke mana PKS? Kalau pertanyaan ini masih juga muncul, jawabannya ada pada sejauh mana stabilitas sistem demokrasi kita. Jika demokrasi dan demokratisasi tetap stabil sebagai aturan main politik, bisa dipastikan, PKS akan tetap pragmatis. Namun, sebaliknya, jika demokrasi mulai goyah dan tidak lagi menjadi aturan main utama, maka mudah diramalkan bahwa perilaku politik ideologis akan kembali bermunculan. Mungkin bukan hanya dari PKS. Dan hal ini terbukti, di saat sekarang dimana demokrasi masih tetap stabil sebagai aturan main politik &#8211; PKS bersedia menjalin kerjasama dengan Partai Golkar maupun Partai Demokrat dalam Pemilu pemilihan presiden 2009 mendatang. Dan PKS membaca peta politik &#8211; berkoalisi dengan Partai Golkar  atau dengan Partai Demokrat agaknya lebih punya kans dalam memenangkan kompetisi.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p>*) Sumber : Majalah GATRA</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/301/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=301&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2009/01/22/mau-kemana-nomor-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2009/01/pks1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pks1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Sabar</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/12/09/konsep-sabar/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/12/09/konsep-sabar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 23:01:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita mengatakan kepada saudara kita “sabarlah kamu”, mungkin salah satu yang terbesit dalam pemikiran kita, sabar itu adalah sesuatu yang kekalahan, kelemahan, dan ketidakberdayaan. Ternyata, sabar itu disamping kita harus kuat dalam mengalami musibah, sabar dalam ibadah dan sabar dalam taat, sabar itu memiliki 5 langkah yang sangat-sangat kokoh dan strategis. Yang pertama adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=188&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-285" title="sabarimage" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/12/sabarimage.jpg?w=468" alt="sabarimage"   />Ketika kita mengatakan kepada saudara kita “sabarlah kamu”, mungkin salah satu yang terbesit dalam pemikiran kita, sabar itu adalah sesuatu yang kekalahan, kelemahan, dan ketidakberdayaan. Ternyata, sabar itu disamping kita harus kuat dalam mengalami musibah, sabar dalam ibadah dan sabar dalam taat, sabar itu memiliki 5 langkah yang sangat-sangat kokoh dan strategis.</p>
<p><span id="more-188"></span><strong>Yang pertama adalah Tangguh</strong>. Seseorang yang sabar itu harus memiliki ketangguhan akan prinsip dan keyakinan. Bagaikan suatu bendungan, dia memang diam, tetapi dalam diamnya itu dia menahan gemburan angin serta menahan gemburan saluran air yang berjuta-juta liter menerpanya. Berarti keteguhan ini merupakan syarat utama untuk bisa sabar.</p>
<p><strong>Yang kedua adalah harus Tabah</strong>. Seseorang yang sabar harus bisa membayangkan dan menerima resiko yang paling buruk sekalipun dengan penuh ketabahan. Karena itu adalah salah satu proses dalam melaksanakan ujian yang diberikan oleh Allah SWT.</p>
<p><strong>Yang ketiga adalah Tekun</strong>. Seseorang yang sabar itu harus tekun dan tidak boleh cepat bosanan. Kita harus menyadari bahwa salah satu syarat keberhasilan, kita tidak boleh berpindah-pindah terlalu cepat, dan kita tidak boleh cepat bosanan, tetapi dia harus tekun dalam menapaki setiap tahapan menuju keberhasilan.</p>
<p><strong>Yang keempat adalah Tegar</strong>. Tegar berarti tidak cepat putus asa. Allah SWT berfirman: &#8220;Wa laa taiasu min rouhillah, innahu laa yaiasu min rouhillah illal qoumil kafirin; Janganlah kamu cepat berputus asa, jangan berkecil hati, karena tidaklah orang yang cepat putus asa itu kecuali orang yang kafir&#8221;. Lantas, kenapa kalau muslim itu tidak boleh cepat putus asa ? Memang dirinya fakir, tapi dia punya Allah yang Maha Kaya, memang dirinya kecil, tapi punya Allah Al-Adzim Allah yang Maha Agung, memang dirinya lemah tapi memiliki Allah Al-Matiin Allah yang Maha kokoh, memang dirinya tidak ada apa-apanya, tapi memiliki Allah Dzal-jalaali wal ikraam. Nah ketika kita mendekat kepada Allah melalui Asma Al Husna atau ketika kita mendekat kepada Allah melalui karakter dan sifat-sifatNya yang mulia maka kita akan mendapatkan satu energi baru, dan kita menyadari kita tidak boleh putus asa.</p>
<p><strong>Dan yang terakhir adalah, Sabar merupakan Tahapan menuju keberhasilan</strong>. Tidak ada keberhasilan yang bisa dilalui dengan sesuatu seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi keberhasilan harus diplaning, harus dilakukan dengan segala ketabahan, segala ketegaran, segala ketekunan, dan segala keteguhan.</p>
<p>Insya Allah jikalau kita kita bisa menapaki 5 tahapan ini maka kualitas sabar kita merupakan sabar yang produktif, sabar yang dinamis dan sabar yang bisa mengantarkan kita kepada keberhasilan dan bukan sabar yang salah atau sabar yang tidak berdaya.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=188&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/12/09/konsep-sabar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/12/sabarimage.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sabarimage</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salafush Shalih Hanya Milik Salafi ?</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/11/17/salafush-shalih-hanya-milik-salafi/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/11/17/salafush-shalih-hanya-milik-salafi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 14:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Ada anggapan yang salah yang selama ini dipahami oleh sebagian orang bahwa di luar Jamaah Salafi berarti bukanlah pengikuti Salafush Shalih (orang-orang yang menyandarkan aqidahnya kepada Al-Quran dan Assunah serta pengikut generasi pertama dari kalangan sahabat dan tabi’in). Sama halnya dengan Muhammadiyah yang secara etimologis artinya pengikut Nabi Muhammad. Lantas apakah orang-orang di luar Muhammadiyah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=111&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-287" title="salafi" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/11/salafi.jpg?w=468" alt="salafi"   />Ada anggapan yang salah yang selama ini dipahami oleh sebagian orang bahwa di luar Jamaah Salafi berarti bukanlah pengikuti Salafush Shalih (orang-orang yang menyandarkan aqidahnya kepada Al-Quran dan Assunah serta pengikut generasi pertama dari kalangan sahabat dan tabi’in). Sama halnya dengan Muhammadiyah yang secara etimologis artinya pengikut Nabi Muhammad. Lantas apakah orang-orang di luar Muhammadiyah bukanlah pengikut Nabi Muhammad ? Inilah yang perlu diluruskan, janganlah kita terlalu terpaku dengan sebutan-sebutan secara bahasa yang hanya menjadi sebuah simbol, tapi marilah melihat hal ini dari segi hakekatnya.</p>
<p><span id="more-111"></span><strong>Makna Salaf</strong></p>
<p>Kata Salaf sering diucapkan. Maksudnya adalah generasi pertama dari kalangan sahabat dan tabi’in (generasi pasca sahabat) yang berada di atas fitrah (dien) yang selamat dan bersih dengan wahyu Allah. Mereka (salaf) menyandarkan aqidah kepada Alqur’an dan As sunnah yang suci. Pemikiran mereka belum ternodai dengan pemahaman-pemahaman filsafat asing. Mereka telah berlalu sebelum pengaruh filsafat-filsafat tersebut merusak kaum muslimin. Untuk mengetahui batasan Salaf, maka kita harus mengetahui batasan jaman dan manhaj mereka.</p>
<p><strong>Batasan Jaman</strong></p>
<p>Adapun batasan jaman mereka adalah tiga generasi yang pertama yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam. Untuk keutamaan mereka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, &#8220;Sebaik-baiknya kalian adalah generasiku (Sahabat) kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in) kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in)&#8221; (Shahih al-Bukhary, kitab Syahadat dari sahabat Imran bin Husain). Demikian itu dikarenakan segala kebaikan yang ada pada diri mereka, dan di masa mereka kelompok-kelompok sesat belum menampakkan permusuhan dan belum menguasai kaum muslimin sebagaimana yang terjadi sesudah mereka tiada. Berarti yang dimaksud Salaf menurut tinjauan sejarah adalah para sahabat Nabi, kemudian tabi’in, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka secara kebaikan.</p>
<p><strong>Batasan Manhaj</strong></p>
<p>Adapun batasan manhaj adalah orang-orang yang konsisten memegang prinsip-prinsip Alqur’an dan Assunnah, mengutamakan prinsip tersebut di atas prinsip-prinsip akal manusia dan mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan kepada keduanya, berdasarkan firman Allah Subhanahu WaTa’ala, &#8220;Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alqur’an) dan Rasulullah (Assunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya&#8221;(An Nisa:59). Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh mereka (Ahlus Sunnah). Karena kelompok-kelompok yang menyelisihi mereka dengan berbagai macam bentuknya adalah tidak konsisten di atas manhaj (jalan) ini. Kelompok yang lain menolak sebagian hadits-hadits, walaupun hadits tersebut shahih dan mentakwilkan ayat-ayat yang sudah jelas dengan menyangka bahwa semuanya bertentangan dengan akal sebagaimana terjadi pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah. Sebab tidak ada yang menetapkan secara dhahiriyah dan menafikan tasybih (penyerupaan kepada makhluknya) kecuali ulama Salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka.</p>
<p>Allah SWT berfirman, &#8220;Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar&#8221;(At-Taubah:100) Orang-orang yang telah dijelaskan dalam ayat tersebut dengan sifat-sifatnya adalah Salafush Shalih. Adapun orang-orang (generasi) setelahnya dan menempuh jalan yang ditempuh mereka maka dinisbahkan kepada mereka dengan huruf &#8220;ya&#8221;, nisbahnya menjadi Salafi. Adapun orang-orang yang datang setelahnya dan tidak mengikuti jalan mereka, mereka adalah khalaf dan mereka bangga dengan keadaan yang demikian itu. Mereka memisahkan jalan mereka sendiri dari jalan Salaf, khususnya dalam hal menetapkan Sifat-sifat Allah. Bukti kongkrit yang demikian itu ada dalam makalah-makalah mereka yang menyatakan jalan Salaf adalah selamat dan jalan khalaf adalah a’alam (lebih berilmu) dan ahkam (lebih lurus). Makalah ini dan kebatilannya sangat mahsyur (terkenal). Dan juga dibawakannya makalah ini sebagai bukti pengakuan orang-orag khalaf bahwa mereka bukan di atas jalan Salaf, dan bahwasanya jalannya Khalaf lebih banyak ilmu dan lebih lurus.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membatalkan ungkapan ini dan menetapkan bahwa jalan Salaf adalah menghimpun segala sifat-sifat yang baik. Maka dari itu JALAN MEREKA adalah ASLAM (SELAMAT), ‘ALAM (ILMIYAH), DAN AHKAM (LURUS).</p>
<p>Akhiru kalam, sekali lagi kita jangan terjebak pada simbol dan bahasa, akan tetapi selamilah lebih dalam apa dan siapa dibalik simbol dan bahasa tersebut. Itulah yang diajarkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Jadi, harap dibedakan, mana salaf dan mana salafi.</p>
<p>Wallahu A’lam.</p>
<p>*) Dari Berbagai Sumber</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=111&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/11/17/salafush-shalih-hanya-milik-salafi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/11/salafi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">salafi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa Untuk almh.Eyang (20 Syawal 1429 H)</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/10/27/doa-untuk-eyang-19-syawal-1429-h/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/10/27/doa-untuk-eyang-19-syawal-1429-h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 22:55:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Allahummaghfirlaha warkhamha wa&#8217;afiha wa&#8217;fuanha wa akrimnurulaha.. ; Ya Allah, ampunilah Eyang hamba, berilah rahmat kepadanya, selamatkan dia, ampunilah dan tempatkanlah dia di tempat yang mulia..&#8221; Amiin.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=103&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-289" title="doa" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/10/doa.jpg?w=468" alt="doa"   /><strong>Allahummaghfirlaha warkhamha wa&#8217;afiha wa&#8217;fuanha wa akrimnurulaha..</strong> ;<br />
Ya Allah, ampunilah Eyang hamba, berilah rahmat kepadanya, selamatkan dia, ampunilah dan tempatkanlah dia di tempat yang mulia..&#8221;<br />
Amiin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=103&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/10/27/doa-untuk-eyang-19-syawal-1429-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/10/doa.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">doa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Silaturahim</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/10/02/konsep-silaturahim/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/10/02/konsep-silaturahim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 22:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan bersosial kita pastinya seringkali mendengar atau bahkan pernah menerima ajakan untuk bersilaturahmi, kita sendiripun seringkali menyebut kata “silaturahim” dengan menyebutnya “silaturahmi”. Namun mungkin sudah lidah orang Indonesia ketika kita ingin meningkatkan satu hubungan, satu persaudaraan, kita menyebutnya dengan &#8220;mari kita bersilaturahmi&#8221;. Namun sesungguhnya secara gramatikal bahasa Arab yang benar adalah silaturahim. Tapi jangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=17&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-790" href="http://putrapurnama.wordpress.com/2008/10/02/konsep-silaturahim/salaman/"><img class="alignleft size-full wp-image-790" title="salaman" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/10/salaman.gif?w=468" alt=""   /></a>Dalam kehidupan bersosial kita pastinya seringkali mendengar atau bahkan pernah menerima ajakan untuk bersilaturahmi, kita sendiripun seringkali menyebut kata “silaturahim” dengan menyebutnya “silaturahmi”. Namun mungkin sudah lidah orang Indonesia ketika kita ingin meningkatkan satu hubungan, satu persaudaraan, kita menyebutnya dengan &#8220;mari kita bersilaturahmi&#8221;. Namun sesungguhnya secara gramatikal bahasa Arab yang benar adalah silaturahim. Tapi jangan salah sangka dahulu, karena bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa kata silaturahmi yang sudah populer di Indonesia ini adalah salah, namun lebih untuk mengajak melihat arti dari kata silaturahim itu sendiri.</p>
<p>Kembali ke awal, mengapa harus silaturahim ? Karena sebenarnya jika kita melihat secara gramatikal bahasa Arab, silaturahim itu ternyata terdiri dari dua kata:</p>
<p><span id="more-17"></span><strong>Yang pertama adalah “Silah”</strong>. Silah itu artinya “awsholah yushilu shilatan sholatan”, menyambungkan dua hal yang berbeda dan tergabung menjadi satu. Maka dari itu kita disuruh untuk sholat. Sholat disamping bermakna doa juga menyambungkan spiritualitas kita dengan Allah SWT. Kita pagi-pagi disambungkan, siang disambungkan, sore disambungkan, dan bahkan malam pun disambungkan. Sehingga insya Allah, jika kita hatinya, pikirannya terus tersambung dengan Allah SWT maka insya Allah akan terjaga hidup kita. Amin.</p>
<p><strong>Yang kedua adalah Rahim</strong>. Apa maksudnya rahim ? selain dia benar-benar rahim seorang ibu ? Kenapa Allah SWT sengaja menggabungkan tingkat hati, hubungan, dan kasih sayang seperti halnya hubungan rahim ? Nah ternyata, Allah SWT menginginkan tingkat kasih ini tak ubahnya seperti proses penggabungan dua rahim atau seperti dua anak yang berada dalam satu rahim.</p>
<p>Dalam salah satu hadist Qudsi Allah SWT mengatakan, “Aku adalah Allah dan Aku adalah Ar-rohman dan Aku telah menciptakan rohim, dan Aku sengaja telah memberinya nama dengan salah satu dari asma Al-Husna. Barang siapa menyambungnya akan Kusambungkan, dan barang siapa yang memutuskannya Aku akan putuskan juga”.</p>
<p>Jadi dari sini kita bisa melihat bahwa ternyata Allah SWT sengaja memberikan kekuatan cinta dalam silaturahim ini karena kasih sayangnya itu langsung diberikan oleh Allah, sengaja Allah memberi nama dengan Ar-Rohim. Kalau kita melihat rahim, itu ternyata sangat luar biasa, siapapun anak itu pasti seorang ibu sudah cinta kepadanya, siapapun anak itu bagaimanapun keadaannya pasti sang ibu sangat sayang kepada anak tersebut.</p>
<p>Nah yang diharapkan adalah, adanya satu hubungan di masyarakat, adanya satu cinta kasih sesama anggota sosial yang seolah-olah kita itu hidup dalam satu rahim atau kita disuruh untuk menyambung antara rahim dengan rahim sehingga muncul rasa kasih sayang dan muncul rasa empati.</p>
<p><strong>Tingkatan Silaturahim</strong></p>
<p>Lantas bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan ? Ada yang menarik yang disampaikan oleh Imam Qordova atau Imam Qurtubi, beliau adalah cendekiawan muslim yang terkenal saat kejayaan Islam di Andalusia. Beliau mengatakan bahwa silaturahim itu ada empat tingkatan :</p>
<p><strong>Silaturahim yang pertama</strong> adalah silaturahim sesama saudara hubungan darah. Antara ibu dengan ayah, dengan anak, dengan kakak, dengan adik, dengan keponakan, itu adalah sesama hubungan darah. Kita disuruh untuk menyambung silaturahim yang sesama darah ini, kita disuruh mencoba untuk berbuat baik dengan saudara kita dan kita disuruh hati-hati ketika berbagi waris, maka dari itu tidak ada aturan yang lebih detail yang diberikan oleh Allah SWT dalam hal berbagi waris. Artinya, jangan sampai hubungan darah ini menjadi pecah dan menjadi bermusuhan hanya karena masalah harta.</p>
<p><strong>Silaturahim yang kedua</strong> adalah silaturahim atau hubungan sesama kaum muslimin seiman, silaturahim sesama saudara kita seiman. Allah SWT dalam firman-Nya mengatakan, &#8220;inna hadzihi ummatukum ummatan waahidah ; katakanlah wahai Muhammad sesungguhnya umatmu itu adalah umat yang satu&#8221;. Jadi, sangat disayangkan diantara beberapa partai islam, antara beberapa golongan muslim itu sekarang agak sulit untuk bertemu. Sebenarnya ternyata rumusnya gampang, seperti yang dikatakan oleh salah seorang ulama dari Mesir, jikalau kita berbeda pendapat antara yayasan, antara pergerakan, antara organisasi, antara partai, itu tidak usah sedih, kita mencoba untuk berusaha bertemu dalam apa yang kita sepakat, dan kita berlapang dada dalam apa yang kita beda. Mungkin ada 10 hal, 3 hal kita sama, 7-nya beda, tidak usah pikirkan yang-7, cukup pikirkan yang 3 saja.</p>
<p>Sebagai satu contoh, kalau dalam pergerakan mahasiswa, KAMMI dan HTI untuk berbicara masalah khilafah itu tidak mungkin bertemu, kalau dilingkup nasional, NU dan Muhammadiyah untuk qunut bersama itu tidak mungkin bisa, NU dan Muhammadiyah untuk talqin mayit bersama-sama itu tidak mungkin. Tapi KAMMI – HTI – Muhammadiyah – NU bisa bersama-sama mewujudkan lingkungan kampus yang islami, KAMMI – HTI – Muhammadiyah – NU bisa bersama-sama memberantas pornografi, KAMMI – HTI – Muhammadiyah – NU bisa bersama-sama memberantas majalah-majalah yang tidak senonoh, KAMMI – HTI – Muhammadiyah – NU bisa bersama-sama mengentaskan kemiskinan, bisa bersama-sama memberantas korupsi. Itulah yang dibutuhkan oleh negara saat ini.</p>
<p><strong>Yang ketiga</strong> adalah silaturahim sesama kemanusiaan. Allah SWT berfirman, &#8220;Ya ayyuhannas inna kholaqnakum min dzakari wa untsa waja‘alnakum syu’uban wa qobaila lita-‘arofu ; wahai sekalian manusia, sesungguhnya Aku menjadikan kalian dari berbagai bangsa dan kaum untuk saling mengenal&#8221;. Inilah hubungan yang sangat luar biasa antara kita dengan barat dan dengan timur. Dan Islam ternyata adalah satu alur yang global.</p>
<p><strong>Dan yang keempat</strong>, yang sangat dasyhat, Allah SWT berfirman,”………Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi , sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. 28:77).</p>
<p>Disini artinya, kita harus peduli kepada binatang, kita harus peduli kepada tumbuh-tumbuhan, kita harus peduli kepada lingkungan. Umat islam yang membuang sampah sembarangan berarti tidak silaturahim dengan alam, umat islam yang membakar hutan itu tidak silaturahim dengan alam, umat islam yang tidak peduli dengan tanam-tanaman berarti tidak peduli silaturahim dengan alam, umat islam yang tidak peduli dengan kebersihan sungai kebersihan lautan berarti tidak peduli silaturahim dengan alam.</p>
<p>Mudah-mudahan dari sini kita bisa bersilaturahim diantara sesama hubungan darah, sesama muslim, sesama manusia, dan dengan alam.</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=17&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/10/02/konsep-silaturahim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/10/salaman.gif" medium="image">
			<media:title type="html">salaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manifestasi Gerakan Tarbiyah. Bagaimana Sikap FSLDK ?</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/08/13/manifestasi-gerakan-tarbiyah-bagaimana-sikap-fsldk/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/08/13/manifestasi-gerakan-tarbiyah-bagaimana-sikap-fsldk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 09:53:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Tarbiyah. Sebuah gerakan yang mengadopsi atau meniru Ikhwanul Muslimin di Mesir untuk diterapkan di Indonesia dalam melakukan pembinaan dan perekrutan anggota secara khusus untuk kepentingan gerakan atau perjuangan di lingkungan umat Islam. Gerakan Tarbiyah ini awalnya sekitar tahun 1970-an dan tahun 1980-an merupakan gerakan dakwah kampus, yakni melalui masjid-masjid kampus di ITB, IPB, UI, UGM, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=55&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/08/logo-kop.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-77" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/08/logo-kop.jpg?w=176&#038;h=209" alt="" width="176" height="209" /></a>Tarbiyah. Sebuah gerakan yang mengadopsi atau meniru Ikhwanul Muslimin di Mesir untuk diterapkan di Indonesia dalam melakukan pembinaan dan perekrutan anggota secara khusus untuk kepentingan gerakan atau perjuangan di lingkungan umat Islam. Gerakan Tarbiyah ini awalnya sekitar tahun 1970-an dan tahun 1980-an merupakan gerakan dakwah kampus, yakni melalui masjid-masjid kampus di ITB, IPB, UI, UGM, UNAIR, UNIBRAW, UNHAS, dan sebagainya. Kemudian menjadi sebuah gerakan yang mengerucut dan menamakan diri sebagai “Tarbiyah” dan akhirnya pada tahun 1998 ketika babak baru Reformasi di antara para aktivisnya mendirikan Partai Keadilan (PK) yang berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada tahun 2004. Di belakang hari PK/PKS menjadikan “Tarbiyah” sebagai bentuk sistem pembinaan dan perekrutan anggota. Karena itu, sebagai sebuah gerakan akhirnya Tarbiyah menjadi tidak dapat dilepaskan dari partai politik Islam yang bernama Partai Keadilan Sejahtera.</p>
<p><span id="more-55"></span>Jika dikaji pada aspek “manhaj” secara normatif atau teks formal semata, maka gerakan keagamaan seperti Tarbiyah tentu tidak masalah, dalam arti baik di dalam dirinya. Tetapi manakala dikaji dari aspek gerakannya, maka gerakan Tarbiyah atau gerakan apapun akan tampak sisi-sisi atau wajah lain yang memiliki karakter, ambisi, tujuan, dan target-target ideologis hingga politik. Dalam aspek manhaj atau normatif pun bahkan dapat diketahui perbedaannya. Dari sini maka memahami Tarbiyah sebagai sistem maupun gerakan tidaklah sederhana, namun cukup kompleks. Intinya, bahwa gerakan Tarbiyah berbeda dengan gerakan Islam lain, termasuk Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Boleh jadi karena sesama gerakan Islam maka terdapat titik-titik kesamaan, tetapi juga memiliki perbedaan, lebih-lebih ketika menjadi gerakan sekaligus sistem pembinaan dari sebuah partai politik Islam tertentu. Karena itu baik sama apalagi berbeda, maka gerakan Tarbiyah dengan nilai-nilai dan ideologi gerakannya tidaklah dapat dihimpitkan dengan FSLDK maupun lainnya. Jika ingin begitu, ya dirikan saja Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Tarbiyah (FSLDKT). Dan pastinya, lembaga dakwah yang ada didalamnya pun juga harus merupakan Lembaga Dakwah Kampus Tarbiyah (LDKT), bukan LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Sehingga jelas bahwa FSLDKT memang menganut idelogi Tarbiyah.</p>
<p>Jika dilihat dari gerakannya, FSLDK sendiri merupakan gerakan Islam yang independen, dalam artian memiliki karakter, dan garis perjuangan tertentu sebagaimana sejarah kelahirannya pada sarasehan di UGM yaitu salah satunya sebagai sarana perwujudan akselerasi dakwah kampus dan bukan sebagai sarana pembinaan jamaah Tarbiyah ataupun sebagai sarana pengkaderan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). FSLDK juga memiliki Komisi ke-LDKan, Komisi Jaringan Kemuslimahan serta Komisi Isu dan Keumatan, itu semua dibentuk sebagai sarana perwujudan akselerasi dakwah kampus serta untuk mewujudkan peran aktif LDK dalam menyikapi permasalahan keumatan. Karena itu, FSLDK berhak mengatur dan menjaga tatanannya serta harus dihormati oleh siapapun, termasuk dan apalagi oleh gerakan Islam lain yang sama-sama berada dilingkungan umat Islam. FSLDK memiliki hak bahkan kewajiban dalam dirinya untuk bebas dari campur tangan, infiltrasi, dan gangguan pihak manapun yang dapat memperlemah gerakannya. FSLDK pun tidak akan melakukan campur tangan dan mengganggu gerakan lain di negeri ini.</p>
<p>Sikap saling menghormati, toleransi, ukhuwah, kerjasama, dan menjaga batas-batas antara organisasi dan gerakan sesama umat Islam justru menjadi penting. Bukan saling menginfiltrasi, yang pada akhirnya dapat merusak bangunan dan kekuatan umat Islam secara keseluruhan. Persamaan bukan untuk diperhimpitkan apalagi menjadi alasan untuk saling mencampuri dan masuk ke rumah tangga antar sesama gerakan Islam. Perbedaan juga bukan untuk dipertentangkan apalagi menjadi benih konflik. Karena itu setiap gerakan Islam semestinya saling menjaga etika/akhlak gerakan, kehormatan, kemandirian, dan tatanan gerakan lain di lingkungan umat Islam. Insya Allah jika sikap moderat seperti itu dipelihara dan dijunjung tinggi maka akan tercipta kemaslahatan dalam gerakan Islam di Indonesia</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>*) Dari Berbagai Sumber</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/putrapurnama.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/putrapurnama.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=55&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/08/13/manifestasi-gerakan-tarbiyah-bagaimana-sikap-fsldk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/08/logo-kop.jpg?w=251" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Saatnya Umat Islam Bangkit !!!</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/07/05/saatnya-umat-islam-bangkit/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/07/05/saatnya-umat-islam-bangkit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 18:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu ketika Rasulullah SAW pernah mengeluarkan pernyataan yang bernada ramalan. Beliau bersabda: “Akan datang suatu masa ketika kamu sekalian (umat Islam) akan dikerumuni oleh umat-umat lain, bagaikan orang-orang yang sedang kelaparan mengerumuni makanan yang lezat”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! apakah waktu itu umat Islam termasuk kelompok minoritas?”, Rasul menjawab: “Sama sekali tidak! bahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=37&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/08/ma.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-80" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/08/ma.jpg?w=240&#038;h=180" alt="" width="240" height="180" /></a>Pada suatu ketika Rasulullah SAW pernah mengeluarkan pernyataan yang bernada ramalan. Beliau bersabda: “Akan datang suatu masa ketika kamu sekalian (umat Islam) akan dikerumuni oleh umat-umat lain, bagaikan orang-orang yang sedang kelaparan mengerumuni makanan yang lezat”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! apakah waktu itu umat Islam termasuk kelompok minoritas?”, Rasul menjawab: “Sama sekali tidak! bahkan pada waktu itu kalian termasuk kelompok mayoritas, hanya saja kalian tak ubahnya seperti buih yang diombang-ambingkan ombak”. Kemudian Rasul menjawab lebih lanjut: “Hal itu terjadi karena kamu termasuk kelompok mayoritas, tetapi Allah telah mencopot kewibaan kalian di mata musuh-musuh kalian, dan telah bercokol di hati kalian penyakit al wahnu. “Apakah penyakit wahnu itu ya Rasulullah ?” tanya sahabat. Jawab Rasul “al-wahnu adalah penyakit cinta dunia dan takut mati”.</p>
<p><span id="more-37"></span>Pernyataan Rasulullah ini adalah pewartaan bahwa hal itu mungkin terjadi, atau mungkin hanya sebagai peringatan kepada kita umat Islam agar hal itu jangan sampai terjadi. Namun kalau kita saksikan dewasa ini yang terjadi terhadap kehidupan umat Islam, bahwa apa yang “diramalkan” Rasulillah SAW tersebut sudah menjadi gejala bahkan kenyataan.</p>
<p>Menurut statistik Rabithah al ‘alam al-Islami (Liga Islam Dunia) secara global pemeluk Islam di dunia sekarang ini sekitar 1,3 milyard. Islam agama terbesar di dunia ini semenjak agama Katolik dan Protestan berpisah, maka masing-masing mencapai 1,2 milyard. Dan ada gejala peningkatan yang cukup signifikan bahwa Islam semakin diminati di negara-negara yang mayoritas bukan Islam, seperti Amerika, Eropa dan Australia.</p>
<p>Sedangkan di Indonesia, menurut sensus tahun 2000 menunjukkan ada sekitar 88,2 % pemeluk Islam dari sekitar 230 juta penduduk. Jadi, ada sekitar 190 juta muslim di negeri yang kita cintai ini. Tentu saja hal itu patut kita banggakan dan harus kita syukuri. Namun kalau kita melakukan muhasabah (perenungan/ introspeksi), melakukan mawas diri dan evaluasi, maka jumlah yang besar itu belum disertai dengan mutu dan kualitas yang besar pula. Kita masih memiliki kebesaran secara kuantitatif (besar dalam jumlah dan bilangan), belum memiliki kebesaran kualitatif (hebat dalam mutu dan kualitas).</p>
<p>Memang secara global pemeluk Islam hampir seperempat penduduk dunia, tetapi sumbangan dunia Islam terhadap perekonomian global hanyalah 5%. Dunia Islam yang memiliki sumber daya alam yang sangat kaya raya, tetapi belum memiliki pusat-pusat unggulan, belum memiliki cendekiawan atau ilmuwan sejati untuk mendorong kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang terjadi justru sebaliknya, dunia Islam masih diliputi fenomena kemiskinan, kebodohan,dan keterbelakangan. Dalam dunia Islam sekarang berada dalam keterpurukan ketika tidak berdaya menghadapi hegemoni (cengkraman) dari negara adikuasa yang merajalela. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang politik dan militer. Inilah yang kita hadapi dewasa ini.</p>
<p>Begitu pula di Indonesia, umat Islam memang besar dan telah berperan besar dalam sejarah, terutama pada fase menjelang kemerdekaan. Umat Islam menjadi faktor penentu kemerdekaan, umat Islam menjadi tulang punggung perjuangan dalam menegakkan kemerdekaan. Tetapi sekarang kalau kita masih membuka diri dan melihat kenyataan, maka umat Islam masih diliputi oleh masalah-masalah internal, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan termasuk juga masalah kesulitan untuk bersatu. 3K plus 1K (kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan termasuk juga masalah kesulitan untuk bersatu) ini menjadi fenomena umum di Indonesia. Sekarang yang penting adalah apa yang harus kita lakukan ke depan dan bagaimana kita mengembangkan diri kita. Itulah agenda utama umat Islam.</p>
<p>Untuk itu, tiada jalan lain kecuali harus bangkit, memperkuat barisan, melakukan konsolidasi diri terhadap tantangan dan ancaman yang ada di depan mata. Kita tidak boleh menghadapi semua itu dengan kesedihan dan kehilangan kepercayaan diri. Allah SWT manyatakan dalam Al Quran surat Ali Imran 139: “Kamu wahai semua umat Islam jangan bersedih hati jangan kehilangan kepercayaan diri, karena sungguh kamu adalah umat pilihan yang memiliki kekuatan dan kelebihan jika kamu semua menjadi orang-orang yang beriman”. Inilah bekal dari Al Quran agar umat Islam jangan kehilangan kepercayaan diri. Jangan berlarut-larut dalam duka dan nestapa, jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Apalagi sampai kita dihinggapi oleh penyakit takut mati dan penyakit cinta dunia, yang kemudian kita berlomba-lomba dalam mencari dunia berlomba-lomba dalam mencari kemewahan dalam kehidupan duniawi ini, tetapi kita melupakan akhirat.</p>
<p>Dan mari kita jawab panggilan Allah dalam Al Quran surat Al Anfal 60 yang maknanya: “Persiapkanlah segala daya, persiapkanlah segala upaya, rancang strategi, rapatkan barisan, untuk menghadapi segala tantangan yang ada di hadapan kita.”. Kita harus melakukan langkah-langkah kongkrit, harus melakukan langkah-langkah nyata, harus mempersiapkan diri dengan strategi perjuangan yang jelas dan jitu.</p>
<p>Selama ini umat Islam Indonesia terkesan lebih menampilkan strategi menghadapi aneka tantangan dan ancaman serta masalah yang ada dengan strategi melawan dan melawan, dengan &#8220;al jihad lil mu’aaradhah&#8221; (bangkit dan tampil dengan emosi dan amarah) terhadap segala yang mengancam. Tentu saja jihad semacam ini tentu tidak memecahkan maslah, tidak bisa memotong akar masalah, karena masalah dan ancaman akan semakin menjadi. Maka kita harus mengubah strategi itu menjadi strategi menghadapi dengan &#8220;aljihad lil muwajahah&#8221;. Kita menghadapi tantangan, masalah dan ancaman dengan langkah-langkah yang nyata. Agar umat Islam siap bersanding dan bertanding dengan kelompok-kelompok lain yang ada, baik di Indonesia maupun di dunia.</p>
<p>Oleh karena itu, secara lebih konkrit dan lebih operasional, ada dua bidang garapan yang harus mendapatkan perhatian serius dari umat Islam Indonesia. Pertama, kita perlu membangkitkan diri di bidang pendidikan, karena kata kunci untuk masa depan adalah kualitas sumber daya manusia. Adanya sumber daya manusia yang berkualitas, akan terwujud, jika kita memajukan pendidikan. Maka lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan umat Islam maupun organisasi-organisasi umat Islam, perlu melakukan reformasi, modernisasi, dan revitalisasi untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.</p>
<p>Keluarga muslim perlu melakukan langkah-langkah yang kongkrit, mendorong putra-putri mereka agar berprestasi dalam bidang pendidikan, merebut keunggulan dan kejayaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti tausiyah Imam Syafi’i yang maknanya: “Barang siapa yang menginginkan kejayaan di dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin kejayaan di akhirat harus menguasai ilmu, dan barang siapa menginginkan kejayaan keduanya, juga harus dengan ilmu”.</p>
<p>Kedua, umat Islam harus mengembangkan ekonomi, memberdayakan diri dalam taraf kehidupan. Karena selain pendidikan, kekuatan dalam bidang ekonomi inilah yang akan membawa munculnya sumber daya manusia yang berkualitas, membawa dan mendorong adanya kualitas umat Islam. Maka perekonomian umat Islam, secara individu, warga, kelompok, atau organisasi harus mendapat perhatian. Islam masuk ke nusantara lewat jalur perdagangan dan ekonomi yang dibawa oleh mubaligh-mubaligh yang juga pedagang. Sehingga dulu kira pernah memiliki kantong-kantong perekonomian umat. Cukup banyak wiraswastawan dan pedagang-pedagang muslim. Merekalah yang kemudian memberi dukungan kepada gerakan dakwah Islamiyah, dan itulah yang membawa kemajuan umat Islam. Sekarang harus kita rebut, tentu dengan menghadapi tantangan ekonomi kapitalistik, karena Indonesia sebagai warga dunia juga membuka pintu bagi ekonomi kapitalis itu. Oleh karenanya, pemerintah dan rakyat Indonesia perlu menyadari betapa pentingnya ekonomi kerakyatan dan betapa pentingnya umat Islam berlomba-lomba dalam mencari rizki yang telah disediakan oleh Allah sehingga memiliki kekuatan ekonomi.</p>
<p>Paling tidak dua pendekatan operasional inilah di samping pendekatan- pendekatan lain dalam kerangka berjuang, dengan strategi utama &#8220;aljihad lilmuwajahah&#8221;. Kalau secara kongkrit kita wujudkan dalam berbagai bidang, khususnya pendidikan dan ekonomi tadi, maka insya Allah kebangkian dan kemajuan umat Islam akan terwujud. Dan janagan dilupakan, hal ini perlu disertai adanya persatuan, kesatuan dan kebersamaan umat Islam. Tanpa hal-hal tersebut dari seluruh komponen Islam, langkah-langkah strategis dan program operasional tadi tidak dapat kita wujudkan.</p>
<p>Maka, yang paling penting adalah adanya kebersamaan, ukhuwah Islamiyah yang selama ini nyaris hanya menjadi mitos, mudah diucapkan, tetapi sulit untuk kita terapkan. Mari perselisihan, pertentangan, bahkan konflik-konflik di tubuh umat Islam kita hindari. Pertentangan dan konflik kita jadikan masa lalu yang tidak perlu terulang kembali. Walaupun umat Islam berbeda organisasi, berbeda paham keagamaan, berbeda aspirasi politik, berbeda orientasi ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya, tapi itu semua jangan menjadi faktor penghambat untuk membangun ukhuwah Islamiyah. Dengan kesadaran semacam ini, dengan persatuan dan kesatuan serta kebersamaan seperti ini Insya Allah umat Islam dapat menggalang kekuatan untuk memajukan ekonomi, pendidikan, dan akan mampu menghadapi tantangan masa depan. Apa yang “diramalkan” Rasulullah SAW kita pahami sebagai peringatan dan pelajaran agar tidak terjadi dan jangan pernah terjadi.</p>
<p>Mari kita bangkit dan kita jadikan Islam dan umat Islam sebagai faktor penentu Indonesia. Sebagai faktor determinan Indonesia, yang menentukan masa depan Indonesia. Bahwa maju mundurnya Indonesia harus ditentukan oleh maju mundurnya Islam dan umat Islam. Kalau umat Islam maju, maka Indonesia akan maju. Sebaliknya, kalau sekarang Indonesia belum maju dan masih terpuruk dengan berbagai masalah dengan multi krisis, tidak hanya dalam bidang politik, hukum bahkan dalam budaya dan moral, itu pertanda umat Islam belum mampu menjadi faktor penentu Indonesia. Kita umat Islam belum menjadi faktor perubahan terhadap Indonesia. Inilah yang harus kita lakukan secara bersama-sama pada masa yang akan datang.</p>
<p>Wallahu a’lam.</p>
<p>*) Dari Berbagai Sumber</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/putrapurnama.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/putrapurnama.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=37&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/07/05/saatnya-umat-islam-bangkit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/08/ma.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hubungan Antara Kekerasan &amp; Agama</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/07/01/hubungan-antara-kekerasan-agama/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/07/01/hubungan-antara-kekerasan-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 08:59:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Tindakan kekerasan, brutalitas, bahkan peperangan atas nama agama bukan barang baru dalam sejarah peradaban (kebiadaban) manusia. Pelaku tindakan ini merasa paling beriman di muka bumi. Karena menganggap diri sebagai makhluk agung di antara manusia, mereka mengangkat dirinya sebagai orang yang paling dekat dengan Tuhan. Karena itu, mereka berhak memonopoli kebenaran. Seakan-akan mereka telah menjadi wakil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=25&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/08/fpi_anarkis4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-85" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/08/fpi_anarkis4.jpg?w=253&#038;h=165" alt="" width="253" height="165" /></a>Tindakan kekerasan, brutalitas, bahkan peperangan atas nama agama bukan barang baru dalam sejarah peradaban (kebiadaban) manusia. Pelaku tindakan ini merasa paling beriman di muka bumi. Karena menganggap diri sebagai makhluk agung di antara manusia, mereka mengangkat dirinya sebagai orang yang paling dekat dengan Tuhan.</p>
<p>Karena itu, mereka berhak memonopoli kebenaran. Seakan-akan mereka telah menjadi wakil Tuhan yang sah untuk mengatur dunia ini berdasarkan tafsiran monolitik mereka terhadap teks suci. Perkara pihak lain akan mati, terancam, binasa, dan babak belur akibat perbuatan anarkis mereka, sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Inilah jenis manusia yang punya hobi &#8220;membuat kebinasaan di muka bumi&#8221;, tetapi merasa telah berbuat baik.</p>
<p><span id="more-25"></span>Seorang Presiden, George W. Bush, penganut Kristen puritan fundamentalis telah memakai agama untuk menghancurkan bangsa lain yang tak berdaya dengan seribu dalih. Perkembangan terakhir menunjukkan semakin banyak tentara Amerika yang bunuh diri karena diimpit suasana putus asa: perang di Afghanistan dan Irak tidak kunjung usai. Mereka memilih mati berkalang tanah daripada hidup becermin mayat. Itu belum lagi yang menjadi gila, rusak ingatan akibat perang yang dipaksakan. Bush dan para pendukungnya yang haus darah tidak hirau dengan semuanya ini.</p>
<p>Sementara itu, di kalangan segelintir Muslim, termasuk di Indonesia yang berkoar anti-Barat, atas nama agama telah membencanai tempat-tempat ibadah, perkantoran, bahkan rumah-rumah mereka yang berbeda agama atau mereka yang dianggap sesat dengan menggunakan fatwa MUI. Para pengrusak ini dari sudut pandang sistem nilai tidak banyak berbeda dengan Bush yang secara lahiriah ditentang oleh mereka. Di sinilah ironi itu berlaku. Dalam retorika politik, mereka seperti bermusuhan. Tetapi, dalam kelakuan, mereka bersahabat. Bedanya, Bush merusak dalam skala besar dengan persenjataan modern, sedangkan mereka dalam skala kecil, seperti dengan memakai pentungan, golok, linggis, dan lain-lain. Sementara itu, aparat seperti tidak mampu menghalangi mereka.</p>
<p>Dengan mengatakan demikian, anda jangan salah paham bila dikaitkan dengan paham Ahmadiyah yang jadi berita besar sekarang ini. Secara teologis, saya menolak 200 persen pendapat yang mengatakan bahwa ada nabi pasca-Muhammad, sekalipun katanya tidak membawa syariat. Jika memang begitu, mengapa harus dihadirkan nabi baru? Di sinilah saya gagal memahami kehadiran aliran Ahmadiyah. Mengapa tidak kembali saja kepada ajaran Islam semula. Adapun jika Ghulam Ahmad dipercayai sebagai pembaru, mungkin masalahnya tidak menjadi ruwet, sekalipun sebagian besar umat Islam tidak mengakuinya.</p>
<p>Sepanjang sejarah Islam selama sekian abad, umat yang percaya kepada kemunculan pembaru bukan barang baru, tetapi hanya sebagian tokoh yang memercayainya. Dengan pernyataan ini, posisi saya tentang Ahmadiyah sudah sangat gamblang. Memang dalam beberapa hadis dikatakan tentang akan turunnya nabi Isa sebelum kiamat. Dan katanya, Ghulam Ahmadlah orangnya.</p>
<p>Saya sungguh berharap agar hadis-hadis serupa ini diteliti kembali, sebab implikasinya sangat dahsyat. Maksud saya, jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal. Saya tidak percaya bahwa nabi Isa masih hidup, karena dia adalah manusia biasa yang atas dirinya berlaku sepenuhnya hukum alam: lahir, dewasa, tua, dan mati. Tetapi, Alquran membantah bahwa kematian nabi Isa karena disalib. Masalah ini biarlah tidak diperdebatkan panjang-panjang, sebab saudara-saudara Kristen kita memercayai bahwa Isa mati di kayu salib. Kita tidak perlu memasuki teologi mereka.</p>
<p>Kembali kepada masalah kekerasan atas nama agama. Saya akan membela sepenuhnya posisi Ahmadiyah jika mereka dizalimi, hak milik mereka dirampok, dan keluarga mereka diusir. Ini perbuatan biadab karena pengikut Ahmadiyah itu punya hak yang sama dengan warga negara Indonesia yang lain menurut konstitusi Indonesia. Jika mereka dizalimi, aparat dan kita semua wajib melindungi mereka. Bahkan, seorang warga negara Indonesia penganut ateisme, tetapi patuh kepada UUD, tidak ada hak kita untuk membinasakan mereka. Kita bisa bergaul dengan mereka dalam masalah-masalah keduniaan. Mereka juga punya hak hidup dengan ateismenya.</p>
<p>Di sinilah pentingnya kita memahami secara jujur diktum Alquran dalam Albaqarah ayat 256, &#8220;Tidak ada paksaan dalam agama.&#8221; Jika Tuhan tidak mau memaksa hambaNYA untuk memeluk atau tidak memeluk agama, mengapa kita manusia mau main paksa atas nama Tuhan? Sikap semacam inilah yang bikin kacau masyarakat. Oleh karena itu, Alquran jangan dibawa-bawa untuk menindas orang lain. Kekerasan atas nama agama adalah pengkhianatan yang nyata terhadap hakikat agama itu sendiri.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>*) Tulisan : Prof. Dr. A Syafii Maarif<br />
(Ketua PP Muhammadiyah 1998 – 2005)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/putrapurnama.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/putrapurnama.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=25&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/07/01/hubungan-antara-kekerasan-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/08/fpi_anarkis4.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Siapakah ?</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/15/siapakah/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/15/siapakah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jan 2008 13:26:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/15/siapakah/</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah orang yang sibuk? Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil pusing akan waktu shalatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s. Siapakah orang yang manis senyumannya? Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.” Lalu sambil berkata, “Ya Robbi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=8&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a rel="attachment wp-att-795" href="http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/15/siapakah/no-photo/"><img class="alignright size-medium wp-image-795" title="no photo" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/01/no-photo.jpg?w=135&#038;h=157" alt="" width="135" height="157" /></a>Siapakah orang yang sibuk?</strong><br />
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil pusing akan waktu shalatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.</p>
<p><strong>Siapakah orang yang manis senyumannya?</strong><br />
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.” Lalu sambil berkata, “Ya Robbi aku ridho dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman.</p>
<p><strong>Siapakah orang yang rugi?</strong><br />
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan.</p>
<p><span id="more-8"></span><strong>Siapakah orang yang miskin?</strong><br />
Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada senantiasa menumpuk-numpukkan harta.</p>
<p><strong>Siapakah orang yang paling cantik?</strong><br />
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.</p>
<p><strong>Siapkah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?</strong><br />
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di-perluaskan kemana mata memandang.</p>
<p><strong>Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit?</strong><br />
Orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya.</p>
<p><strong>Siapakah orang yang mempunyai akal?</strong><br />
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.</p>
<p><strong>Siapakah orang yang bijak?</strong><br />
Orang yang bijak ialah orang yang selalu ber-positif thinking dan ber-positif feeling dalam melakukan sesuatu.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/putrapurnama.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/putrapurnama.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=8&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/15/siapakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/01/no-photo.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">no photo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berapakah Umur Kita ?</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/13/berapakah-umur-kita/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/13/berapakah-umur-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jan 2008 16:21:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/11/5/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap dari kita insya Allah pasti pakai jam tangan, dan setiap dari kita pasti akan mengatur waktu kita. Ternyata, tentang jam ini, tentang waktu ini, ada ceritanya. Salah satunya yang disampaikan oleh Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii, beliau mengatakan : “Innamal umr, umron, al umr al jasadi, wal umr al ilmi wal musahabah, sesungguhnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=5&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Setiap dari kita insya Allah pasti pakai jam tangan, dan setiap dari kita pasti akan mengatur waktu kita. Ternyata, <img class="size-full wp-image-551 alignleft" title="images3" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/01/images3.jpg?w=468" alt="images3"   />tentang jam ini, tentang waktu ini, ada ceritanya. Salah satunya yang disampaikan oleh Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii, beliau mengatakan : “Innamal umr, umron, al umr al jasadi, wal umr al ilmi wal musahabah, sesungguhnya waktu itu ada 2 jenis, yang pertama adalah waktu atau umur kita sesuai dengan akte lahir alias umur biologis, dan yang kedua adalah umur kontribusi, umur ilmu dan umur partisipasi kita di masyarakat&#8221;.</p>
<p><span id="more-5"></span>Nah sekarang kita tinggal bertanya, bagaimana dengan umur kontribusi dan umur partisipasi kita. Mungkin umur kita secara biologis sudah mencapai 21 tahun, secara KTP sudah mencapai 21 tahun. Tetapi selama 21 tahun ini, kita dan termasuk saya sendiri jarang membaca buku, membaca kalo pas mau ujian saja, kita jarang membuka disiplin ilmu kita, apakah akutansi, hukum, bahasa, demikian juga ilmu-ilmu yang lain, kita jarang menambah keilmuan kita, kita-pun, jarang membaca buku-buku agama dan firman Allah. Kalau ada yang minta sumbangan ke tempat kita, kita katakan “mohon maaf”, kalau ada orang lain yang terkena musibah, kita-pun lambat untuk membantu.</p>
<p>Boleh jadi, umur kita sudah mencapai 21 tahun secara KTP, tetapi umur ilmu kita ternyata baru 15 tahun…! tetapi sebaliknya, bisa jadi umur kita itu baru 18 tahun, tetapi tiada hari tanpa Al-Quran, tiada hari tanpa membaca, tiada hari tanpa memberi sekalipun hanya 1000 atau 500 rupiah dan tiada hari tanpa berpartisipasi di lingkungan kita, mungkin walaupun umurnya 18 tahun, dia secara kontribusi sudah mencapai 21 tahun.</p>
<p>Salah satu contohnya, tidak ada kaum muslimin yg tidak mengenal Imam Al Ghozali, kira-kira Imam Al Ghozali itu umurnya berapa tahun ? ternyata secara KTP, Imam Al Ghozali itu umurnya hanya 55 tahun, secara KTP lho.. tetapi secara keilmuan beliau masih hidup hingga hari ini, bahkan insya Allah masih hidup sampai yaumul qiyamah.</p>
<p>Contoh yang lain, semua pesantren atau bahkan kita semua pasti mengenal Imam Nawawi, kira-kira umurnya berapa tahun ? ternyata hanya 45 tahun, tetapi karena beliau berkontribusi, karena menulis, beliau masih hidup sampai hari ini.</p>
<p>Nggak usah jauh-jauh, Buya Hamka, sudah lama meninggal, tetapi karena beliau menulis, karena ada tafsir Al Azhar, karena ada masjid, karena ada sekolah, beliau masih hidup sampai hari ini dan insya Allah masih hidup sampai yaumul qiyamah.</p>
<p>Mahasiswa atau mahasiswi yang pasif mungkin saja umurnya sudah 23 tahun..! tetapi karena dia pasif, umur kontribusinya mungkin hanya 13 tahun.</p>
<p>Nah kita tinggal bertanya, berapa umur kita secara biologis dan berapa umur kita secara kontribusi dan partisipasi.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/putrapurnama.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/putrapurnama.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=5&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/13/berapakah-umur-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/01/images3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Istilah Ikhwan &#8211; Akhwat. Perlukah ?</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/12/istilah-ikhwan-akhwat-perlukah/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/12/istilah-ikhwan-akhwat-perlukah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jan 2008 18:39:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/12/ikhwan-akhwat/</guid>
		<description><![CDATA[Eh, dia itu rajin shalat tahajud dan tilawah lho.. padahal dia bukan ikhwan.. Dia itu pakai jilbab gede lho.. padahal dia bukan akhwat.. Sudah lama otak saya terganggu oleh ucapan atau percakapan diatas. Bahkan saya pun sering dikatakan bukan seorang ikhwan meskipun jelas-jelas saya itu seorang ikhwan (laki-laki). Istilah ikhwan dan akhwat memang semakin populer [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=6&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-320 alignleft" title="person" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/01/person.jpg?w=468" alt="person"   />Eh, dia itu rajin shalat tahajud dan tilawah lho.. padahal dia bukan ikhwan..<br />
Dia itu pakai jilbab gede lho.. padahal dia bukan akhwat..</p>
<p>Sudah lama otak saya terganggu oleh ucapan atau percakapan diatas. Bahkan saya pun sering dikatakan bukan seorang ikhwan meskipun jelas-jelas saya itu seorang ikhwan (laki-laki). Istilah ikhwan dan akhwat memang semakin populer saja sejak semangat dakwah di kampus-kampus, dari kampus yang besar sampai yang kecil, mengalami peningkatan yang amat pesat, terutama dalam sepuluh tahun terakhir ini. Entah bagaimana sejarah mulanya mereka yang aktivis dakwah harus menyebut dirinya ikhwan atau akhwat. Yang jelas, ternyata ada pergeseran makna kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam perjalanan penggunaannya.</p>
<p><span id="more-6"></span><br />
Secara lughatan (bahasa/etimologis) kata ‘ikhwan’ adalah bentuk jamak dari akhun, yang artinya saudara, sedangkan ‘akhwat’ adalah bentuk jamak dari ukhtun dengan arti yang sama. Saudara disini bisa bermakna denotatif, yang berarti saudara kandung atau saudara sepertalian darah, ataupun bermakna konotatif, yang berarti saudara dalam arti yang lebih luas. Misalnya saudara seiman, saudara seorganisasi, dsb.</p>
<p>Barangkali, dari pemaknaan secara luas itulah mulanya istilah ikhwan dan akhwat (atau panggilan ‘akhi’ dan ‘ukhti’) dipakai dikalangan aktivis dakwah. Mungkin maksudnya adalah untuk mempertegas dan memperkuat pertalian saudara sesama muslim dan sesama aktivis dakwah. Allah SWT memang telah meniscayakan bahwa sesama mukmin adalah bersaudara (QS. Al-Hujuraat :10). Ikatan persaudaraan sesama muslim tentu akan sangat bermakna bagi seorang aktivis, apalagi ketika berada di lingkungan dan Negara yang mayoritas warganya non-muslim. Tetapi, mengapa harus memakai istilah bahasa Arab dan apakah ada muatan ideologis didalamnya ataukah hanya sekedar pilihan ? tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Konon, para aktivis dakwah di Negara-negara Barat saling memanggil koleganya dengan” brother” atau “sister”. Yang jelas, dengan memakai bahasa apapun, jika pemaknaan sebatas ‘saudara sesama muslim’ atau ‘sesama aktivis dakwah’, penggunaan panggilan ikhwan atau akhwat tidak menjadi masalah. Namun, ketika pemaknaannya bergeser lebih jauh, apalagi menyangkut prinsip dan aqidah, tentu akan menjadi masalah.</p>
<p>Dan tampaknya memang ada pergeseran makna ikhwan dan akhwat dikalangan para aktivis sekarang ini. Menariknya lagi, seperti ada lebih dari satu pergeseran makna disana. Mari kita kaji sejenak.</p>
<p>Pertama – ikhwan dan akhwat (mulanya) adalah sebutan dan identitas untuk para aktivis dakwah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti bukan aktivis dakwah. Sampai disini, istilah ikhwan dan akhwat hanyalah sebatas identitas atau atribut sosial yang mungkin tidak terlalu menimbulkan persoalan.</p>
<p>Kedua – dengan tetap melekatkan pemaknaan pertama – ikhwan dan akhwat adalah muslim atau muslimah yang baik, yang menjalankan ajaran agama dengan sebenar-benarnya, dan yang mendapat hidayah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti belum menjadi muslim yang baik. Pemaknaan ini menjadi gawat jika tidak diklarifikasi, apalagi jika diikuti dengan atribut dan simbol-simbol tertentu. Misalnya, cara berpakaian, ikut jamaah tertentu, dsb.</p>
<p><strong>Perubahan Makna</strong></p>
<p>Sebagai manusia, kita cenderung untuk menilai dan memaknai sesuatu dari apa yang tampak. Kita juga cenderung menilai sesuatu berdasarkan pola pemahaman semantik dan persepsi yang telah terbangun dalam kepala kita, yang kita yakini kebenarannya meskipun belum tentu benar. Dengan mempelajari makna kata dan perubahannya, diharapkan bias-bias persepsi dan pemahaman bahasa bisa dihindari.</p>
<p>Dalam ilmu linguistic, makna sebuah kata bisa berubah dalam waktu yang relatif lama, terlebih kata serapan. Cabang linguistik yang mempelajari hal ini disebut semantik diakronis, yakni pengetahuan tentang makna kata serta perubahannya dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya perkembangan sosial-budaya, perkembangan pemakaian kata, pertukaran tanggapan indera, dan adanya asosiasi. Proses perubahan makna ikhwan dan akhwat di kalangan aktivis dakwah dapat dipahami dan dijelaskan dengan semantik diakronis ini.</p>
<p>Secara alami, perubahan makna kata memang pasti terjadi. Namun, kita sebenarnya bisa mengendalikan perubahan tersebut. Apalagi dalam komunitas masyarakat yang relatif kecil (komunitas gerakan dakwah misalnya). Secara sederhana, misalnya, dengan menegaskan apa, mengapa dan bagaimana sebuah istilah digunakan.</p>
<p><strong>Simbol dan Hakikat</strong></p>
<p>Apa yang kita dapat pelajari tentang pemakaian dan pemaknaan kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam tulisan ini ? Bahwa bahasa, simbol, dan apapun yang tertangkap oleh indera, belum tentu menggambarkan hakikat yang sebenarnya dari apa dan siapa yang diekspresikan oleh bahasa atau simbol tersebut.</p>
<p>Simbol dan bahasa adalah apa yang tampak dan apa yang yang bisa ditangkap oleh indera, dan ia sangat terbatas. Sedangkan hakikat adalah apa yang ada dalam hati. Maka untuk mengetahui hakikat seseorang, jangan hanya percaya pada simbol dan bahasa, akan tetapi selamilah lebih dalam apa dan siapa dibalik simbol dan bahasa tersebut. Itulah yang diajarkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW.</p>
<p>Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Abdullah bin Mas’ud ra. pernah diejek karena betisnya yang kecil (perhatikan kata “kecil” dalam kalimat “betis yang kecil” yang mungkin dikonotasikan sebagai sesuatu yang jelek dan buruk). Sekonyong-konyong Rasulullah SAW datang dan menegaskan bahwa kedua betis yang kurus itu disisi Allah lebih berat daripada bukit Uhud. Bilal bin Rabbah ra. adalah mantan budak yang berkulit hitam legam. Ia bahkan ragu-ragu untuk menyunting seorang perempuan. Akan tetapi, siapakah yang berani menyepelekannya? Ketika lamaran disampaikan, perempuan itu sampai menangis lantaran merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mendampingi seorang shalih sekaliber sang mantan budak.</p>
<p>Maka dari itu Nabi SAW pun pernah bersabda: Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati kamu. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a)</p>
<p>Penggunaan simbol, istilah, sebutan, label atau apapun untuk menegaskan identitas adalah hal yang lumrah dan sah. Namun jika simbol, istilah, sebutan, dan label itu kemudian digunakan untuk menentukan kadar hati dan iman seseorang, baik disengaja atau tidak, atau bahkan sebagai pembeda dalam memandang seseorang kurang islami ataupun lebih islami, maka itu telah melampaui batas.</p>
<p>Akhirul kalam, saudara-saudaraku yang menggunakan istilah ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’, atau istilah apapun dari bahasa apapun, silahkan diteruskan. Apalagi kalau itu bisa memperkuat ikatan persaudaraan sesama, apalagi kalau itu menambah menambah semangat Anda untuk berusaha menjadi muslim yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang-orang disekitar Anda. Tapi harus diingat, sebelum menggunakan istilah tersebut harus diketahui agar tidak terjadi pergeseran makna yang tidak benar.</p>
<p>Selanjutnya, mari kita kembalikan ukuran penilaian kita terhadap seseorang berdasarkan amaliah ibadah dan perilakunya sehari-hari, bukan pada aktif di organisasi apa orang itu, aktif di jamaah apa dia, orang mana dia, atau berasal dari suku apa. Tentu saja ukuran penilaian yang saya maksud di sini adalah sebatas ukuran baik dan tidak baik secara manusiawi, bukan sampai pada apakah orang itu termasuk golongan surga atau neraka, atau apakah orang itu bertakwa atau tidak. Karena hanya Allah Ta’ala semata Yang Tahu dan Yang Berhak.</p>
<p>Wallahu A’lam.</p>
<p>*) A. Eko Balyo (Karyawan DPPAI UII)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/putrapurnama.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/putrapurnama.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=6&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/12/istilah-ikhwan-akhwat-perlukah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/01/person.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">person</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>4 Perkara Sebelum Tidur</title>
		<link>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/10/empat-perkara-sebelum-tidur/</link>
		<comments>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/10/empat-perkara-sebelum-tidur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 12:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciput</dc:creator>
				<category><![CDATA[None]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://putrapurnama.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[(Tafsir Haqqi) Rasulullah SAW berpesan kepada Aisyah r.a: &#8220;Ya Aisyah, jangankah engkau tidur sebelum melakukan 4 perkara:&#8221; 1. Sebelum khatam Al Qur’an 2. Sebelum membuat para Nabi memberimu syafaat di hari akhir 3. Sebelum para muslim meridhoi kamu 4. Sebelum kamu melaksanakan haji dan umroh Aisyah bertanya: ya Rasul, bagaimana aku dapat melaksanakan 4 perkara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=15&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-298" title="tidur" src="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/01/tidur.jpg?w=468" alt="tidur"   />(Tafsir Haqqi)</p>
<p><strong>Rasulullah SAW berpesan kepada Aisyah r.a:<br />
&#8220;Ya Aisyah, jangankah engkau tidur sebelum melakukan 4 perkara:&#8221;</strong></p>
<p>1. Sebelum khatam Al Qur’an<br />
2. Sebelum membuat para Nabi memberimu syafaat di hari akhir<br />
3. Sebelum para muslim meridhoi kamu<br />
4. Sebelum kamu melaksanakan haji dan umroh</p>
<p><strong>Aisyah bertanya: ya Rasul, bagaimana aku dapat melaksanakan 4 perkara seketika</strong> ?</p>
<p><span id="more-15"></span><br />
<strong>Rasul tersenyum dan bersabda: jika engkau tidur</strong>,<br />
- Bacalah Al Ikhlas 3 kali, seakan-akan kau menghatamkan Al-Qur’an<br />
- Bacalah sholawat untuk-ku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua memberi syafaat di hari akhir<br />
- Ber-istighfarlah untuk para muslimin, maka mereka akan meridhoi kamu<br />
- Dan perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, maka seakan-akan kamu telah melaksanakan haji ataupun umroh</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/putrapurnama.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/putrapurnama.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/putrapurnama.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/putrapurnama.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/putrapurnama.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/putrapurnama.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/putrapurnama.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/putrapurnama.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/putrapurnama.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/putrapurnama.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/putrapurnama.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/putrapurnama.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/putrapurnama.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/putrapurnama.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/putrapurnama.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/putrapurnama.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=putrapurnama.wordpress.com&amp;blog=2466033&amp;post=15&amp;subd=putrapurnama&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://putrapurnama.wordpress.com/2008/01/10/empat-perkara-sebelum-tidur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1250c1ad6d06d8f9ef799bf7a6761f75?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Putra Purnama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://putrapurnama.files.wordpress.com/2008/01/tidur.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tidur</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
