Istilah Ikhwan – Akhwat. Perlukah ?

personEh, dia itu rajin shalat tahajud dan tilawah lho.. padahal dia bukan ikhwan..
Dia itu pakai jilbab gede lho.. padahal dia bukan akhwat..

Sudah lama otak saya terganggu oleh ucapan atau percakapan diatas. Bahkan saya pun sering dikatakan bukan seorang ikhwan meskipun jelas-jelas saya itu seorang ikhwan (laki-laki). Istilah ikhwan dan akhwat memang semakin populer saja sejak semangat dakwah di kampus-kampus, dari kampus yang besar sampai yang kecil, mengalami peningkatan yang amat pesat, terutama dalam sepuluh tahun terakhir ini. Entah bagaimana sejarah mulanya mereka yang aktivis dakwah harus menyebut dirinya ikhwan atau akhwat. Yang jelas, ternyata ada pergeseran makna kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam perjalanan penggunaannya.


Secara lughatan (bahasa/etimologis) kata ‘ikhwan’ adalah bentuk jamak dari akhun, yang artinya saudara, sedangkan ‘akhwat’ adalah bentuk jamak dari ukhtun dengan arti yang sama. Saudara disini bisa bermakna denotatif, yang berarti saudara kandung atau saudara sepertalian darah, ataupun bermakna konotatif, yang berarti saudara dalam arti yang lebih luas. Misalnya saudara seiman, saudara seorganisasi, dsb.

Barangkali, dari pemaknaan secara luas itulah mulanya istilah ikhwan dan akhwat (atau panggilan ‘akhi’ dan ‘ukhti’) dipakai dikalangan aktivis dakwah. Mungkin maksudnya adalah untuk mempertegas dan memperkuat pertalian saudara sesama muslim dan sesama aktivis dakwah. Allah SWT memang telah meniscayakan bahwa sesama mukmin adalah bersaudara (QS. Al-Hujuraat :10). Ikatan persaudaraan sesama muslim tentu akan sangat bermakna bagi seorang aktivis, apalagi ketika berada di lingkungan dan Negara yang mayoritas warganya non-muslim. Tetapi, mengapa harus memakai istilah bahasa Arab dan apakah ada muatan ideologis didalamnya ataukah hanya sekedar pilihan ? tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Konon, para aktivis dakwah di Negara-negara Barat saling memanggil koleganya dengan” brother” atau “sister”. Yang jelas, dengan memakai bahasa apapun, jika pemaknaan sebatas ‘saudara sesama muslim’ atau ‘sesama aktivis dakwah’, penggunaan panggilan ikhwan atau akhwat tidak menjadi masalah. Namun, ketika pemaknaannya bergeser lebih jauh, apalagi menyangkut prinsip dan aqidah, tentu akan menjadi masalah.

Dan tampaknya memang ada pergeseran makna ikhwan dan akhwat dikalangan para aktivis sekarang ini. Menariknya lagi, seperti ada lebih dari satu pergeseran makna disana. Mari kita kaji sejenak.

Pertama – ikhwan dan akhwat (mulanya) adalah sebutan dan identitas untuk para aktivis dakwah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti bukan aktivis dakwah. Sampai disini, istilah ikhwan dan akhwat hanyalah sebatas identitas atau atribut sosial yang mungkin tidak terlalu menimbulkan persoalan.

Kedua – dengan tetap melekatkan pemaknaan pertama – ikhwan dan akhwat adalah muslim atau muslimah yang baik, yang menjalankan ajaran agama dengan sebenar-benarnya, dan yang mendapat hidayah. Bukan ikhwan atau akhwat berarti belum menjadi muslim yang baik. Pemaknaan ini menjadi gawat jika tidak diklarifikasi, apalagi jika diikuti dengan atribut dan simbol-simbol tertentu. Misalnya, cara berpakaian, ikut jamaah tertentu, dsb.

Perubahan Makna

Sebagai manusia, kita cenderung untuk menilai dan memaknai sesuatu dari apa yang tampak. Kita juga cenderung menilai sesuatu berdasarkan pola pemahaman semantik dan persepsi yang telah terbangun dalam kepala kita, yang kita yakini kebenarannya meskipun belum tentu benar. Dengan mempelajari makna kata dan perubahannya, diharapkan bias-bias persepsi dan pemahaman bahasa bisa dihindari.

Dalam ilmu linguistic, makna sebuah kata bisa berubah dalam waktu yang relatif lama, terlebih kata serapan. Cabang linguistik yang mempelajari hal ini disebut semantik diakronis, yakni pengetahuan tentang makna kata serta perubahannya dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya perkembangan sosial-budaya, perkembangan pemakaian kata, pertukaran tanggapan indera, dan adanya asosiasi. Proses perubahan makna ikhwan dan akhwat di kalangan aktivis dakwah dapat dipahami dan dijelaskan dengan semantik diakronis ini.

Secara alami, perubahan makna kata memang pasti terjadi. Namun, kita sebenarnya bisa mengendalikan perubahan tersebut. Apalagi dalam komunitas masyarakat yang relatif kecil (komunitas gerakan dakwah misalnya). Secara sederhana, misalnya, dengan menegaskan apa, mengapa dan bagaimana sebuah istilah digunakan.

Simbol dan Hakikat

Apa yang kita dapat pelajari tentang pemakaian dan pemaknaan kata ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ dalam tulisan ini ? Bahwa bahasa, simbol, dan apapun yang tertangkap oleh indera, belum tentu menggambarkan hakikat yang sebenarnya dari apa dan siapa yang diekspresikan oleh bahasa atau simbol tersebut.

Simbol dan bahasa adalah apa yang tampak dan apa yang yang bisa ditangkap oleh indera, dan ia sangat terbatas. Sedangkan hakikat adalah apa yang ada dalam hati. Maka untuk mengetahui hakikat seseorang, jangan hanya percaya pada simbol dan bahasa, akan tetapi selamilah lebih dalam apa dan siapa dibalik simbol dan bahasa tersebut. Itulah yang diajarkan dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Abdullah bin Mas’ud ra. pernah diejek karena betisnya yang kecil (perhatikan kata “kecil” dalam kalimat “betis yang kecil” yang mungkin dikonotasikan sebagai sesuatu yang jelek dan buruk). Sekonyong-konyong Rasulullah SAW datang dan menegaskan bahwa kedua betis yang kurus itu disisi Allah lebih berat daripada bukit Uhud. Bilal bin Rabbah ra. adalah mantan budak yang berkulit hitam legam. Ia bahkan ragu-ragu untuk menyunting seorang perempuan. Akan tetapi, siapakah yang berani menyepelekannya? Ketika lamaran disampaikan, perempuan itu sampai menangis lantaran merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mendampingi seorang shalih sekaliber sang mantan budak.

Maka dari itu Nabi SAW pun pernah bersabda: Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati kamu. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a)

Penggunaan simbol, istilah, sebutan, label atau apapun untuk menegaskan identitas adalah hal yang lumrah dan sah. Namun jika simbol, istilah, sebutan, dan label itu kemudian digunakan untuk menentukan kadar hati dan iman seseorang, baik disengaja atau tidak, atau bahkan sebagai pembeda dalam memandang seseorang kurang islami ataupun lebih islami, maka itu telah melampaui batas.

Akhirul kalam, saudara-saudaraku yang menggunakan istilah ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’, atau istilah apapun dari bahasa apapun, silahkan diteruskan. Apalagi kalau itu bisa memperkuat ikatan persaudaraan sesama, apalagi kalau itu menambah menambah semangat Anda untuk berusaha menjadi muslim yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang-orang disekitar Anda. Tapi harus diingat, sebelum menggunakan istilah tersebut harus diketahui agar tidak terjadi pergeseran makna yang tidak benar.

Selanjutnya, mari kita kembalikan ukuran penilaian kita terhadap seseorang berdasarkan amaliah ibadah dan perilakunya sehari-hari, bukan pada aktif di organisasi apa orang itu, aktif di jamaah apa dia, orang mana dia, atau berasal dari suku apa. Tentu saja ukuran penilaian yang saya maksud di sini adalah sebatas ukuran baik dan tidak baik secara manusiawi, bukan sampai pada apakah orang itu termasuk golongan surga atau neraka, atau apakah orang itu bertakwa atau tidak. Karena hanya Allah Ta’ala semata Yang Tahu dan Yang Berhak.

Wallahu A’lam.

*) A. Eko Balyo (Karyawan DPPAI UII)

Advertisements

21 Responses

  1. setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda dalam memandang suatu masalah, hal ini wajar terjadi…

  2. Perkenalkan, nama saya Ikhwan Maftuh,
    Saat ini, mulai populer di kampus-kampus : “Agar dianggap religius, laki-laki memanggil pacarnya ‘Ukhti’ ”
    ah..

  3. paling g, gw jd lebih tau,, daripada g mau tau ,..

  4. Ahwat ato syahwat?

  5. Orang mah sudah sampe bulan…. Bahkan NASA ada project ke Saturnus. Ini ribut masalah kayak gini… ck…ck…ck…

    Reply:
    memang. terus apa masalahnya?

  6. namanya juga bahasa….

    halal bi halal..(artinya lucu kalo di indonesiakan)
    silaturahmi..(harusnya silaturahim)
    minal aidzin wal faidzin (diartikan mohon maaf lahir batin)
    semuanya adalah salah kaprah dalambahasa arabnya…kalo orang arab tahu arti sebenarnya tentu beliau akan tertawa sendiri

    setiap bahasa akan mengikuti urf yangberlaku di suatu wilayah

    demikian juga dengan penggunaannya akan disesuaikan dengan budaya yang menggunakannya… sehingga makna awal akan menjadi makna epistimologi yang bisa jadi sangat berbeda dengan makna akhirnya

    dan hal ini tidak hanya terjadi di bahasa arab… dibahasa indonesia pun jga sering terjadi…

    misalnya nih kata koran… berasal dari kata quran yang memang dulu satu-satunya bacaan cuma quran

    sekarang semua orang memakainya…

    kata rumah sakit seharusnya rumah sehat

    tapi semua sudah terbentuk dari budaya…

    jika memang urf (budaya) tentang ikhwan ini mau di jadikan arti selayaknya makna awalnya… tentu saja secara bertahap…
    hingga akhirnya ini tidak lagi menjadi bahasa urf dalam suatu jamaah yaitu dengan cara terus-menerus menggunakan kata tersebut kepada khalayak…
    dmulai dari tokoh-tokoh penting tentu saja akan diikuti oleh masyarakat..

  7. kalo menurut ane (gpp kan pake”ane”?), kalo lagi di komunitas yang plural -ada yang sudah paham, ada yang belum terlalu paham- pake yang umum aja. kalo lagi bareng sama temen2 yang sudah paham, panggilan “akhi” ato “ukhti” bisa menimbulkan chemistry tersendiri. membuat orang merasa diterima dan diakui di komunitas dan kemudian akan mendorongnya untuk lebih belajar islam. panggilan tersebut juga bisa jadi pengendalian internal yang dipanggil..

  8. ikut nimbrung nih…..

    justru dengan pergesera makna ini, masyarakat / mahasiswa islam semakin terkotak-kotak.

    jadi ada semacam perasaan segan apabila anak gaul n pangkeh ingin bergaul dengan anak mesjid……

    kan kasian kalo mereka yang gaul n pangkeh ingin belajar islam dan belajar memaknai hakikat hidup….

    jadi janganlah mengeksklusipkan diri dengan panggilan special… betul tidak..

  9. “apa arti sebuah nama (sapaan) ” kata Shakespare… tapi menurut pendapatku sapaan itu penting sekali paling tidak memberi semangat untuk menjadi lebih baik bagi yg menerima sapaan. Misalnya suatu saat saya dipanggil Akhi oleh orang lain maka saya akan bicara secara lebih sopan, dari pada saya dipanggil ‘lu’ ‘yu’ ‘kowe’ maka saya akan menjawab dengan cengengesan. ‘Boso kuwi Roso’ omonge wong Jowo

    Reply:
    Menjadi sholeh, sopan, dan santun hanya ketika dipanggil “akhi” atau “ukhti”. Silahkan pembaca yg lain menanggapi hal ini.

  10. saya sepakat dengan tulisan diatas, sebenarnya memang tdk terkait antara derajat ketaqwaan seseorang dengan kata/panggilan ikhwan atw akhawat… atw akhi or ukhti… yang salah itu bukan pada panggilan tersebut, akan tetapi lebih pada makna yang dipahami dibalik kata-kata itu… kalo seandainya kata-kata itu bisa mempererat ukhuwah, why not??jadi bener… menyampaikan sesuatu itu dengan bahasa kaumnya…

  11. klo saya sih ngeliatnya lebih ke ‘rasa bahasa’, bener emang gak terkait dengan tingkat ketakwaan. pernah pake ana, antum ke anak yang gaul…dia malah bilang “aduh jangan pake antum2-an….jadinya gak enak”….ya udah pakenya gw elu.

    Kaya klo bilang ke ortu atau ke teman, pasti pake kata ganti yang beda, masa ke ortu bilang “mah gw berangkat dulu ya”. Lihat kondisi aja, toh mubah-mubah aja.

    Jadi ya…sampaikanlah menggunakan bahasa kaumnya (kaum aktivis, kaum gaul, kaum akademis, dll :D)

  12. Kata Ikhwan dan Akhwat sama sekali tidak ada hubungannya dengan ketakwaan dan keshalihan seseorang..

    Omong2, dulu Rasul dan para sahabat menggunakan kata2 tersebut gak ya? ❓

  13. justru dari pada itu, niy salah satu tugas jma’i bwt ngedakwahin yg masih blom ngerti istilah or makna tsb… btw, ana sendiri jujur masih sering terjebak dengan “cakupan” kata ikhwan or akhwat

  14. jangan pula kita antipati pada dua istilah itu.
    perang pemikiran dimulai!
    [sejak dulu kaleeeeee…….]
    hmhh….

  15. jadi intinya IKHWAN atau BAKWAN………
    AKHWAT atau KAWAT……
    Silakan anda tentukan sediri….
    Intinya walau kita di lembaga dakwah JANGAN BERUSAHA MENJADI TUHAN….
    bagaimana bro…

  16. yups…yups…setuju bgt ma pendapatnya,kita gak bisa lah terlalu terkekang sama predikat ikhwan/akhwat, itu kan gak bisa menjamin seseorang, lagian pa iya nama yang disebut ikhwan dan akhwat bisa lebih baik dalam keimanan dan sebagainya, jg2 yang selama ini jauh dari tampilan seorang ikhwan/akhwat sebenernya lebih…dan LEBIH… dari pada orang2 yang “NGAKUNYA SI…” jauh lebih ikhwan/akhwat

  17. JIKA KITA MENGAKU SUCI……MAKA IA KOTOR YANG SEBENARNYA

  18. Assalamualaikum, memang kita sering terkekang oleh kata ikhwan or akhwat yang harus tampil sempurna, sekali melakukan kesalah sedikit aja dampaknya jadi besar. karna saya yakin sekali banyaknya amalan yang kita lakukan bukan berarti hati ini bersih. sepakatkah kita dengan hal ini ? hanya hati ini yang mampu menjawabnya. Tetap semangat sobat……….

    Reply:
    Tetap semangat juga sobat..

  19. Aw2. thanks for ur invited.wooaww…wonderfull. but i confuse…is it ur masterpeace bro?/!
    keep spirit to write all the moment interested in ur world . ganbatte ne !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: